14 Oktober 2009...14:08

Belajar Untuk Konsisten

Lompat ke Komentar

SUngguh memprihatinkan bahwa bangsa ini ternyata masih diberi cobaan yang besar oleh Allah. Dan sebagai satu saudara (sebagai sesama muslim maupun rakyat Indonesia) membantu sesuai kemampuan adalah termasuk sumbangsih yang besar.Dan puji syukur pada Allah bahwa begitu banyak kepedulian yang ditunjukkan oleh kita semua terhadap saudara kita itu.

Pada saat ini, ketika begitu banyaknya musibah itu datang, mata kita menjadi seakan terbuka akan kondisi negeri. Dan lalu bantuan, sikap peduli begitu banyak berdatangan. Tapi di sisi lain…bertahan lamakah sikap peduli itu?

Kadangkala kita selalu terjebak pada sikap-sikap dan gerakan berbau spontan, reaktif dan terkesan revolusioner dan agung. Jarang sekali hal seperti itu menjadi suatu gerak yang simultan dan konstan dinamis. Artinya tidak perlu kita menunggu musibah baru kita membantu bukan?

Salut dengan beberapa orang yang kontinu mengajar membaca dan menulis untuk anak-anak jalanan tukang ngelem; salut untuk para ekspertis yang selalu mengaplikasikan ilmunya; salut untuk para eksekutif yang menyumbangkan uangnya tiap bulan untuk pembangunan desa tertinggal; beserta salut-salut lainnya. Seringkali kita membicarakan hal-hal yang besar tapi bahkan membuang sampah tidak sembarangan saja tidak bisa. Berbicara kemiskinan tetapi barang-barangnya selalu menginjak harga level 7 digit; berteriak tentang produk negeri yang diklaim tetangga tapi belanjanya selalu yang berbau branded asing.

Suatu aksi reaktif sungguh sangat diperlukan ketika kondisi memang mengharuskan. Dan sikap aktif dinamis akan melengkapinya menjadi lebih baik. Demi terwujudnya masyarakat madani, masyarakat yang termaslahatkan.

& Komentar

  • emang lo konsisten sama cita2 lo, kata2 lo, dan perbuatan lo? bukannya asal ikut doang ya?

  • Konsistensi memang sulit didapat, wong konsistensi didapat dalam sebuah proses berkala dan gak bisa langsung keliatan :D *halah*

    Salam kenal, bung =w=~


Tinggalkan Balasan