Tentang Laksito Hedi

Sociopreneur | Koleris-Sanguinis | Macroeconomic-Political Studies | Menlu KM ITB

Arsenal-Milan, Mengulang Tragedi Riazor atau Semifinal PSV 2005?

Leg pertama, Milan membantai Arsenal 4-0. Daripada mengatakan Milan bermain luar biasa, saya lebih suka mengatakan Arsenal luar biasa buruk pada pertandingan itu. Milan hanya bermain seperti layaknya Milan yang biasanya, hanya saja disitu ditambah pertahanan yang begitu terbuka dari Arsenal. Hasilnya, kita semua tahu, Arsenal dicabik-cabik.

Menjelang leg ke2, saya sejujurnya masih khawatir dengan agregat dan kepastian lolos ke babak berikutnya. Saya yakin banyak fans Milan yang berpikir seperti itu juga. Bagaimana tidak kalau di masa-masa silam Milan sering bermasalah dengan keunggulan yang cukup telak di pertandingan Liga Champions. Yang pertama adalah versus Deportivo La Coruna. Unggul 4-1 di San Siro, Milan kemudian tersingkir karena pemain Deportivo seperti kerasukan setan sehingga kalah 4-0. Yang kedua adalah memori buruk Final Liga Champions 2005 lawan Liverpool di Istanbul. Unggul cepat 3-0 di babak pertama, Milan jebol dengan tempo cepat pula hingga skor 3-3. Entah setan mana lagi yang merasuki pemain Liverpool kala itu. Lanjut membaca

Analisis Milan : Milan – Juventus. Kenapa Kalah?

Sebelum Pertandingan

Milan akan menghadapi partai semifinal Coppa Italia yang pertama ini dengan kehilangan 13 pemainnya. 12 orang cedera, serta 1 orang terlibat akumulasi kartu. 7 dari 13 orang ini adalah penghuni skuad inti besutan Allegri; Abbiati, Nesta, Cassano, Aquilani, Abate, Nocerino, Boateng. Sisanya adalah Merkel, Pato, Strasser, Yepes, Gattuso, dan Flamini.

Partai-partai terakhir yang dilewati Milan sebelum pertandingan ini menghasilkan skor yang cukup mengecewakan. Ditahan imbang Napoli, setelah sebelumnya dihajar oleh Lazio 2-0. Pertandingan yang dimainkan berjarak 3 hari sekali dengan memainkan pemain yang hampir sama tiap match nya, utamanya pada pemain yang mengisi lini tengah. Di sisi lain, jadwal yang ada pada periode sekarang bisa disebut neraka karena bertemu dengan tim-tim besar serta akan dimulai kembali 16 besar UEFA Champions League. Fokus tim sepertinya terpecah belah.

Dari yang sudah-sudah, terlihat bahwa Allegri selalu kesulitan bermain melawan tim besar. Apalagi apabila bertemu dengan pelatih yang cerdas secara taktik, entah kenapa Allegri seperti tidak berkutik. Lawan Inter-nya Ranieri dan Lazio-nya Reja contohnya. Milan mungkin menguasai pertandingan, tapi praktis sama sekali tidak punya peluang yang mengancam. Bola hanya berkutat berputar-putar di wilayah tengah karena wilayah ¼ lapangan telah dipressure ketat. Walhasil Milan keok melalui skema serangan balik memanfaatkan kelengahan pemain Milan yang terlalu enak memainkan bola.

Hal ini yang saya takutkan ketika melawan Juventus. Hadirnya Conte yang membawa 3-5-2 ketika melawan Milan membuat saya berpikir Conte bisa jadi orang dengan anti-taktik Allegri yang kesekian. Ditambah dengan sedikitnya cedera pemain yang dialami Juventus serta dihuni pemain-pemain yang mayoritas bertipe cepat, saya semakin tidak yakin Milan akan membawa hasil maksimal pada pertandingan ini. Lanjut membaca

Debat Ketua IA ITB, Panas Euy!

Pada bulan November ini, saya dua kali mengikuti agenda resmi Pemilu Ketua IA ITB, yang pertama di Gedung Telkom Jakarta pada awal November, dan yang kedua di Gedung Sate Bandung pada tanggal 19 November. Kenapa saya rela-relanya datang pada suatu forum yang jelas-jelas bukan diperuntukkan bagi saya yang notabene belum alumni?Ada yang menarik terkait ini. Saking seringnya saya hadir pada forum-forum alumni seperti ini, saya selalu ditanya oleh beberapa alumni yang kenal dengan saya “ngapain lo kesini?mau minta dana ya?”. Tentu saja pertanyaan itu bersifat bercanda. Saya tertawa dalam hati. Bukan rahasia memang kalau citra mahasiswa makin ke sini adalah mendekat ke alumni untuk minta bantuan dana terkait acara-acaranya.  Atau ada kalimat lain “Menteri Hublu mau mulai dekat-dekat calon ketua IA ya?”. Ini pun saya hanya tersenyum.

Jawabannya bisa beragam. Secara pribadi saya memang tertarik dengan IA ITB. Isinya, tujuannya, ngapain aja, dan siapa yang terlibat banyak di dalamnya. Momen Pemilu Ketua IA ITB tentu adalah pesta bagi IA ITB sendiri, dan inilah yang menarik bagi saya. Mau tidak mau, IA ITB adalah wadah bagi saya nantinya ketika sudah berstatus alumni. Dengan potensinya yang besar, bukankah suatu kerugian bila kita yang notabene nantinya bagian dari IA ITB tidak tahu dan akhirnya tidak memanfaatkan potensi dan fasilitas yang ada pada IA ITB? Lanjut membaca

Catatan Menlu : MK RI, Kemenko Perekonomian RI, Indonesia Mengajar

Rekan, pada hari yang sama dengan ketika kunjungan ke gedung MK, selesai dari gedung MK saya menuju ke gedung kantor Kemenko Perekonomian RI. Saya belum pernah berkunjung ke sini, sekaligus mengantar wakil saya punya tugas untuk mewawancarai salah satu Deputi Menko Perekonomian RI yang kebetulan adalah alumni Planologi, satu jurusan dengan wakil saya. Sedikit berkomentar, gedung kantor ini terlihat sunyi senyap dan sepi. Entah karena memang pegawai yang bekerja di Kementerian ini hanya sedikit (berhubung kerja nya adalah mengkoordinasikan) atau ada alasan lain, saya tidak tahu.

Kembali ke bahasan, inti tugasnya adalah membahas tentang MP3EI koridor timur. Saya pikir, sambil menyelam minum air. Wakil saya bisa mengerjakan tugas akademiknya sekaligus menambah jaringan utamanya apabila kita membutuhkan kajian dan diskusi terkait MP3EI wabilkhusus bidang infrastrukturnya, karena alumni Plano yang diwawancara ini adalah Deputi Bidang Infrastruktur di Kementerian yang dipimpin Ketua IA ITB, Hatta Radjasa.

Lanjut membaca

Catatan Menlu : Gedung Amanat Negara, MK RI

Periode Bulan November (Part 1)

Bulan November ini saya mencoba untuk mengaktifkan lagi kegiatan kunjungan ke luar kampus. Setelah banyak agenda internal kampus yang mau tidak mau menyedot perhatian saya sebagai pribadi, rekan-rekan pejabat kabinet lain, atau para staf yang membantu saya pada bulan Oktober seperi Wisuda Oktober ITB misalnya yang begitu gegap gempita.

Minggu pertama November pada malam hari saya menyempatkan diri berangkat dari Bandung ke gedung Telkom Jakarta untuk dapat menyaksikan Debat calon Ketua Umum IA ITB. Lanjut membaca

Ronny Lukito : Gak kesampean Kuliah, Kini Pemain Besar Produk Tas

Kunci utama berbisnis adalah menjaga hubungan baik dan menciptakan trust. Kalu hubungan baik dan trust sudah terjalin, otomatis tiap ada kesempatan bisnis baru akan selalu diberikan kepada kita

Masa depan seseorang memang sulit diduga. Banyak orang yang awalnya terlihat bukan siapa-siapa, namun ternyata dapat membalikkan keadaan dan menjadi bintang. Ronny Lukito, pemilik B&B Incorporation adalah sosok yang mewakili itu.

Ronny lahir di Bandung pada 15 Januari 1962. Ia lahir pada sebuah keluarga yang menghidupi kebutuhannya dari berjualan tas pada toko kecil di jalan ABC. Pada masa remajanya, Ronny yang tinggal di Bandung hidup dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Orangtuanya bukan termasuk kaum berada. Jangankan untuk sekolah, untuk hidup sehari-hari saja sudah susah. Makanya setelah ia lulus dari STM, ia berhenti untuk lanjut ke kuliah karena tidak ada biaya.

Semenjak bersekolah di STM ia sudah biasa berjualan susu dengan menyetor ke rumah-rumah tetangganya. Itulah masa-masa remajanya yang dibiasakan hidup sederhana, kerja keras dan jauh dari hidup berada. Selepas dari lulus STM, awalnya Ronny membantu pekerjaan orang tuanya. Mulai dari menjahit, menjaga toko, maupun memasarkannya. Akan tetapi hasrat mudanya membuat ia memilih untuk hidup dan bekerja sendiri terpisah dari orang tuanya. Lanjut membaca

Polemik BBM Bersubsidi

Tulisan sudah cukup lama tapi baru diposting. Sudah tidak zaman topik pembahasannya, tapi beberapa poin masih relevan

Tiba-tiba saja dalam beberapa hari ini saya mendengar berita yang cukup mengejutkan, bahwa pemerintah menggandeng MUI untuk memberi fatwa haram pada penggunaan BBM bersubsidi yang dilakukan oleh orang yang mampu. Hal ini saya yakin akan menimbulkan pro kontra , karena :

Pertama, Indonesia bukanlah negara Islam. Andaikan nantinya fatwa itu benar akan dikeluarkan oleh MUI, maka fatwa itu hanya akan mengikat umat Islam. Terus bagaimana dengan umat beragama yang lain?

Kedua, ini yang paling saya soroti. Kita semua mungkin paham bahwa harga minyak dunia sekarang memang sedang tinggi. Hal itu memberatkan anggaran pemerintah dalam APBN karena di negara kita, minyak adalah salah satu komoditas yang disubsidi. Asumsi APBN tentang harga minyak dunia per barel ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dimana harganya sekarang sudah melampaui itu. Karenanya keuangan negara dapat terkuras habis apabila kebijakan subsidi BBM premium terus dilakukan.
Lanjut membaca

Kontroversi Sang Ketua DPR

Kalau kita mengamati media yang makin bergentayangan di sekitar kita akhir-akhir ini, baik itu cetak maupun elektronik, kita pasti mengetahui isu negeri ini yang sedang hangat-hangatnya, yaitu kontroversi Marzuki Alie, anggota DPR dari Partai Demokrat sekaligus Ketua DPR. Hampir semua media memberitakan tentang pernyataan kontroversial beliau terkait dengan permasalahan yang terjadi di KPK.

Kalau kita kilas balik ke peristiwa-peristiwa lampau, kita pasti akan menemukan bahwa tidak hanya sekali ini saja Marzuki Alie mengeluarkan pernyataan yang controversial. Tentu saja yang mungkin paling menghebohkan beberapa bulan yang lalu adalah ketika isu pembangunan gedung baru DPR yang menelan triliunan rupiah sedang panas-panasnya. Dan disitu, Marzuki yang notabene adalah pimpinan DPR adalah salah seorang yang sangat mendukung rencana itu, yang tentu saja menyebabkan munculnya banyak protes dan kecaman dari berbagai lapisan masyarakat.

Kembali ke masa kini, pernyataan beliau baru-baru ini tentang usulnya untuk membubarkan KPK sebagai bentuk solusi permasalahan KPK (lagi-lagi) menuai banyak kecaman. Bagaimana tidak, KPK yang dianggap oleh mayoritas masyarakat sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi yang mendarah daging di negeri ini malah oleh beliau diusulkan untuk dibubarkan. Beliau beranggapan krisis yang menerpa KPK saat ini membuat KPK lemah, dan karena KPK ‘hanyalah’ lembaga ad hoc negara (hasil bentukan pemerintahan Megawati akibat dari adanya ketumpulan kinerja pemberantasan korupsi dari tiga institusi yaitu Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman), maka ketika KPK sudah tidak bisa diandalkan beliau berpendapat lebih baik dibubarkan saja dan tugas pemberantasan korupsi dikembalikan kepada tiga institusi yang disebut sebelumnya.


Tentu sebagai salah seorang warga negara, dan sebagai satu dari sekian ratus anggota DPR, beliau berhak untuk mengajukan pendapat apapun tentang kehidupan berbangsa dan akan dijamin dilindungi oleh konstitusi. Tetapi permasalahannya adalah terdapat predikat yang menempel erat pada dirinya, yaitu jabatannya sebagai Ketua DPR. Sebagai Ketua DPR tentu beliau adalah oknum yang paling disorot oleh public, dan pernyataan beliau tentang KPK ini pada nyatanya melukai cita-cita masyarakat yang menginginkan pemberantasan korupsi di Indonesia hingga bersih. Masyarakat masih mencitrakan  lembaga KPK adalah lembaga paling bersih dan minim kepentingan daripada lembaga lain, dan upaya untuk membubarkannya tentu membuat siapa saja yang sepakat akan upaya itu menjadi public enemy.

Sekali lagi, sebagai Ketua DPR saya pun menyayangkan pernyataan beliau yang terkesan ‘blak-blakan’ atau bahkan dalam bahasa yang lebih kasar dapat dikatakan ‘tidak dipikir terlebih dulu’. Ada apa dengan staf ahli beliau yang berjumlah 10 orang? Tidak adakah para pembisiknya yang memberi saran terkait pernyataan-pernyataannya? Walhasil pernyataan beliau ini merembet pada banyak hal : institusi DPR (yang dipimpinnya) semakin diragukan akan keberpihakannnya pada kepentingan rakyat dan nasional, dipertanyakannya kapasitas Marzuki Alie sebagai Ketua DPR hingga muncul upaya mosi tidak percaya terhadap dirinya, dan makin kisruhnya dunia politik Indonesia yang ujungnya bisa membuat kepercayaan rakyat pada para pemerintahnya semakin surut dan dangkal, bahkan bisa hilang.

Semoga para tokoh negeri ini dapat belajar dari sini dan benar-benar memperjuangkan kepentingan nasional.

Laksito Hedi – Penulis adalah Menteri Hubungan Luar Keluarga Mahasiswa ITB