Insan Cendekiaku Kini

Insan Cendekiaku, Insan Cendekia kita semua. Kenapa sih gw nulis ini? sebenarnya g tau juga kenapa gw nulis tentang Insan Cendekia, almamaterku tercinta. Cuma belakangan ini gw merasa IC yang pada jaman gw bergerak ke arah yang tidak benar, maka sekarang sudah kembali ke treknya. Thanks to Mister Ahmad Hidayatullah, sang kepala madrasah baru yang diimport langsung dari saudara IC yang di Gorontalo. Mungkin ada yang berpikir, kenapa semakin baik?bukankah sekarang IC diisi oleh segerombolan anak2 pesantren yang notabene dianggap terbelakang dalam kadar ilmu pengetahuan?

Okey, kita bisa menjudge seperti itu, tapi toh kita tidak bisa mengekuivalenkan anak pesantren=bodoh kan? gw kira itu pemikiran yang dangkal. Mungkin iya, tapi tentu saja tidak semua. Apalagi dengan sistem penerimaan siswa baru yang semakin diperketat, karena mungkin belajar dari tahun sebelumnya yang katanya tidak terfilter dengan baik (hehe….sori Nozomika, ini komen salah satu guru lho!). Yah…sebenernya gw g mau membahas tentang pesantren. Biarlah itu jadi urusan IC dengan Depag.

Terlepas dari keadaan IC yang sekarang dirongrong oleh kebijakan Departemen Agama yang bisa dibilang g tahu diri, gw mau menjabarkan bahwa IC sekarang lebih baik dibanding di masa gw. Oke, dimulai dari kata pertama, disiplin. Menurut gw level disiplin IC sudah beranjak kembali ke treknya. Contoh sederhananya adalah sudah tidak ada(atau jarang) siswa yang bisa izin khusus seenaknya. Proses perizinan yang diperketat membuat siswa tentu sangat sulit untuk keluar. Bandingkan dengan dua atau satu tahun yang lalu waktu zaman gw, izin khusus bisa seenaknya, apalagi dengan para ustadz2 gadungan (siswa yang bisa meniru tandatangan pembina) dan stempel wakamad yang tergeletak pasrah di kantornya, menimbulkan hasrat siswa untuk men-cap kartunya dengan ilegal.

Contoh lainnya adalah pengabsenan untuk sholat berjamaah di masjid. Jadi ketika masuk waktu sholat, lw harus datang ke masjid sebelum iqamah dan tandatangan di lembar absensi (yang diambil ketika iqamah telah berkumandang). Terkesan pemaksaan sih, tapi gw jadi ingat ketika hukuman yang tidak solat berjamaah hanya berupa poin 4. Banyak sekali siswa yang meremehkan poin 4 ini. Yang walhasil, masjid selalu tidak seramai yang seharusnya ketika shalat berjamaah. Dan tentu saja ini tidak baik untuk pendidikan agama bagi sekolah seislami IC. Balik ke absensi, jadi ketika absensi lw tidak mencapai kadar yang seharusnya (kayak absensi perkuliahan lah!) maka ada punishment berupa tidak boleh mengikuti ujian. Waw….bagi gw, itu pemikiran yang luar biasa dari Pak Ahmad. Rakyat IC memang harus dipaksa, karena kalau menunggu kesadaran, wah..mau nunggu sampai jenggotan juga kayaknya kesadarannya masih kurang.

Intinya sih gw merasa beruntung karena IC gw Insya Allah akan tetap bisa survive di masa akan datang. Buat siswa2 yang masih di IC, gw tahu tentu berat ngejalanin semua ini, tapi cobalah untuk dinikmati (haha…bisa ngomong gini karena gw juga sudah lulus). Yakinlah bahwa semua yang dilakukan sekoalh kita tercinta adalah untuk kebaikan bersama.

(nb: ditulis oleh seorang alumni IC2008 yang punya track record cukup mulus dalam hal kedisiplinan.haha….)

6 responses to “Insan Cendekiaku Kini

  1. Tito……Salah satu anak ascova yang g kena poin 4 selama 3 tahun. tapi nyaris aja dapet poin dari Fajri waktu kelas 3. Hhe

  2. knapa ya ga dari awal sperti skarang..
    mungkin kita bisa lebih dari kita saat ini

    sayangnya smuanya tak mungkin kembali
    tak ada yang perlu disesalkan walaupun kdg menyesal

    masih ada jalan panjang didepan yg mesti kita lalui
    mw dibawa kmana lgi ya kita?

    smoga kita dituntun ke arah yg benar

  3. yang abis sahur on the road. Kan bnyk yg menghilang di asrama tuh. Ada yg kunci pintu matiin lampu, makanya Piket wktu itu maen tembak aja tanpa ngecek trlbh dlu.

  4. blogwalking..oo ni anak ic..gw jg.
    wow brilian jg tu absen masjid bwt syarat ujian..
    jadi kpala skolahnya ganti..
    bnyk yg brubah kyknya..
    wahwah..kyknya stelah masuknya angkatan madrasah itu sistemnya kacau yah–>birokrasinya..
    biasalah depag..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s