Andai Aku Menjadi… Visualisasi Realitas Orang Kecil (best TV program)!

Tadi sore selagi menunggu adzan maghrib saya menjadi teringat bahwa ada acara bagus yang sering saya ikuti dulu, yang tayang setiap hari sabtu dan minggu jam setengah enam sore. Judul acaranya “ANDAI AKU MENJADI…”. Buat yang belum tahu, acara ini bertema reality show (tapi bukan seperti Indonesian Idol atau AFI ya!) yang menunjukkan kerasnya hidup di negeri dan dunia ini. Setiap episodenya selalu menampilkan cerita-cerita miris tentang kehidupan rakyat Indonesia yang jauh dari kata layak. Para petani dengan tanah yang gersang, para tukang becak yang kehilangan pelanggan di tengah kendaraan bermotor yang semakin banyak, para kuli angkut di pasar-pasar yang tidak pernah menetapkan tarif untuk jasanya dan lainnya. Merekalah sebenarnya profil masyarakat Indonesia sebenarnya. Lihatlah orang-orang di Senayan sana, inilah rakyatmu, inilah orang-orang yang berada dalam tanggung jawabmu, orang-orang yang harusnya membuat kalian tidak nyenyak tidur karena tahu di luaran sana banyak orang sedang tidak makan seharian (teringat akan cerita tentang Utsman bin Affan yang keliling kota seharian karena ingin melihat kehidupan rakyatnya).

Pada episode minggu ini Trans Tv bercerita tentang petani garam di pinggiran pantai. Tepatnya daerahnya saya kurang tahu, tapi sepertinya di sekitaran Indramayu. Petani ini hidup hanya dengan istrinya. Anak cucunya tinggal di desa seberang yang jaraknya cukup jauh. Desa saja jauh, apalagi kota…huff. Keseharian bapak ini adalah menjaring air laut dan membuatnya menjadi garam.

Tentu saja kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan si Bapak ini. Tentu jauh dari kesan layak. Istrinya tahu itu, karena itu ia mencoba membantu dengan berjualan minuman keliling di desanya. Inilah kegiatan sehari-hari mereka. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana cara mereka makan dan tetap hidup di hari ini dan esok. Mereka tentu saja tak akan berpikir tentang caleg dan pilkada dan segala tetek bengeknya. Buat apa, toh mereka-mereka itu tidak bisa membuat perubahan.

Saya ingin sekali menangis ketika tahu bahwa rumah yang mereka tempati adalah rumah sewa. Padahal rumah itu jauh dari kelayakan tempat tinggal. Atapnya jerami, dindingnya adalah tripleks bekas dan seng-seng bekas, dan berdiri di atas tanah lempung kasar. Dan saya sungguh ingin menangis ketika tahu bahwa harga sewa rumah itu 25.000 rupiah per tahun. Bayangkan, 25.000 rupiah! uang yang mungkin terlihat tak seberapa oleh kita, tetapi sangat berarti buat mereka. Si Bapak ini untuk mendapatkan 25 ribu ini butuh memanen garam sebanyak 2 kwintal lho…dan jumlah 2 kwintal itu pastilah tidak sedikit untuk dikerjakan dalam waktu singkat.

Ya Allah…betapa saya merasa adalah orang yang tidak bersyukur terhadap hidup ini. 25 ribu bisa saja saya habiskan dalam sehari. Tapi bagi si Bapak itu, 25 ribu adalah harga yang harus mereka bayar untuk kehidupan ‘nyaman’ mereka selama 1 tahun. 25 ribu yang saya keluarkan dengan mudah, 25 ribu yang mungkin keluar untuk suatu yang tidak bermanfaat, 25 ribu yang…ahh, saya tidak tahu harus berkata apa. Saya membayangkan teman-teman mahasiswa yang membawa mobil-mobil yang setiap hari diparkir di jalan Ganesha, saya membayangkan mereka-mereka yang kesukaannya makan di Pizza Hut, saya membayangkan orang-orang yang gagah dan anggun berjalan di dalam mall untuk mencari pakaian mahal dan berkelas agar terlihat bergengsi, saya membayangkan remaja-remaja yang tiap minggunya keluar masuk bioskop menonton film-film yang makin hari tidak bermutu, saya membayangkan ABG-ABG yang berjalan petantang-petenteng di jalan karena bangga bisa memegang Handphone Blackberry di tangannya, dan saya membayangkan banyaaaak hal yang kontradiktif dengan kehidupan si Bapak ini.

Bagi si Bapak, hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk survival di dunia ini. Perjuangan melawan banyak rintangan. Arti perjuangan yang mungkin belum pernah saya rasakan, belum(atau tidak?) pernah dirasakan oleh mereka-mereka yang saya singgung di atas. Si Bapak yang menangis karena tidak bisa membawa cucunya bermain di pasar malam desanya sebab tak punya uang. Si Bapak yang mengucap banyak terima kasih ketika tim Trans Tv memberinya sebuah kedai makanan. Si Bapak dengan istrinya yang begitu tabah menjalani kehidupan sang suami. Si Bapak yang mungkin hasil garamnya adalah yang tersimpan di dapur kita saat ini. Si Bapak yang sudah tua renta, yang harusnya sudah duduk tenang dalam pelayanan anak-anaknya.

Ya Allah…saya bersumpah padamu bahwa suatu saat nanti, saya pasti akan mengangkat minimal satu orang saja dari kaum mereka ke derajat yang pantas. Kaum yang dimarginalkan, kaum yang terpinggirkan!!!

About these ads

3 responses to “Andai Aku Menjadi… Visualisasi Realitas Orang Kecil (best TV program)!

  1. nice post.jarng nonton euy.
    yap.
    itb isinya udah kebanyakan org kaya semua..
    sejak usm ada kali yah..
    perlahan-lahan jiwa kepedulian sosialnya pudar, berganti dgn jiwa hedonis apatis..
    itulah tantangan kita.
    itb yg sekarang,harus seperti itb yg dulu.
    menciptakan intelek2 yg mau peduli sama bangsanya..
    bukan cuma pengincar hujan emas di negeri orang..
    hoho..
    terus posting yg ga nyampah..tapi nyampah jg boleh ko klo lg butuh..

  2. saya berminat banget kpengen jd tellent di “Jika Aku Menjadi” bgmn ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s