Harkat Masyarakat Itu Bernama Kos-kosan

Ada fenomena menarik di daerah kampus saya di daerah Bandung. Tentu saja di daerah sekitaran insitut terbaik bangsa (maaf, bila kesannya arogan!). Semakin banyak saja yang membangun rumah-rumah baru yang wujudnya maknyus pisan. Kenapa saya bilang maknyus?karena rumah-rumah ini begitu indah dan bagus dibangun dan terkesan mewah, apalagi karena fungsinya adalah sebagai KOS-KOSAN!!yeah…kos-kosan. Benar-benar bak jamur di musim hujan, tiba-tiba semakin banyak bangunan-bangunan nan mewah yang muncul untuk dijadikan persewaan tempat tinggal bagi mahasiswa-mahasiswa.

Kosan yang dulu fungsinya hanya sekedar tempat tinggal kecil bagi mahasiswa-mahasiswa, sekarang telah berganti rupa dan fungsi menjadi tempat yang tidak hanya bisa menampung kita tidur dan belajar, tapi juga bisa memfasilitasi segala yang bisa kita harapkan dari sebuah hunian. Tidak ada masalah tentu saja pada kasus ini, karena tentu saja ada yang menjual, dan pasti ada yang membeli kan?ada peluang maka orang yang jeli pasti akan menyabetnya.

Yang mau saya bahas adalah bahwa dengan kemunculan pemain-pemain baru dalam bisnis ini (yang dimana pemain-pemain baru ini adalah seorang kapital bermodal cukup besar) maka pemain-pemain lama yang sudah bergelut di bisnis ini sekian tahun menjadi terpinggirkan. Terutama untuk masyarakat golongan menengah ke bawah yang memang menggantungkan nafkah hidupnya dari bisnis pasif ini(yang biasanya adalah warga asli daerah itu). Masyarakat ini makin tersingkir sebagai kosan yang diminati para mahasiswa, karena dengan fasilitas yang seadanya dan kondisi hunian yang mungkin tidak distandarisasi lagi. Apalagi dengan mentalitas anak-anak sekarang yang maunya serba instan dan tanpa bekerja keras, maka tentu saja hunian dengan banyak fasilitas akan menjadi primadona, toh kita jga mampu menebusnya nilai jualnya kan?

Dan seiring dengan kondisi finansial orang tua mahasiswa yang semakin baik, maka lirikan mata ke arah kosan sederhana khas orang lokal menjadi sesuatu yang tidak mungkin lagi. Dan bermainlah hukum rimba dalam perekonomian negara kita, yang bermodal-lah yang menang. Sejak kapan rakyat kecil pernah terpikirkan?

Menjadi solusinya adalah perimbangan kawasan. Tentu saja tidak bisa dipungkiri bahwa rumah-rumah baru nan eklusif dibutuhkan hadir untuk bisnis permukiman kos-kosan. Hanya saja orang-orang lama nan kecil ini harusnya juga dilindungi oleh pemerintah, malah kalau bisa diperbantukan untuk dikembangkan. Sehingga terciptalah kawasan hunian sementara khas tempat kuliah yang berimbang dan proporsional. Dan dari ini semua mungkin saja bakal berekses ke lain hal, misal bisnis-bisnis lainnya seperti industri tempat makan dll. Nah, menjadi kawasan perputaran uang yang mandiri bukan?asal konsep tata ruangnya bagus, maka tidak perlu ada perbenturan yang bermodal dan ‘miskin’ modal, karena seharusnya keduanya memiliki sifat bersinergi, membangun untuk kepentingan bersama.

Well, inilah harkat masyarakat kita, kalau bukan kita yang melindungi dan mengembangkan, siapa lagi?udah g musin lagi ngomong ‘kamu’, ‘kalian’, ‘mereka’. Karena harusnya kita berseru “SAYA!”

2 responses to “Harkat Masyarakat Itu Bernama Kos-kosan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s