Mengapa dan Kenapa…

Harus ada simbolisasi terhadap keyakinan
harus ada dikotomi kehidupan
subkultur yang mengakar kuat sehingga eksklusifitas menjadi real adanya
rajalela paham sempit dan distorsi sudut pandang

karena keyakinan adalah masalah hati
dan tentu saja amalan
tapi, bukan berarti memakai topeng kesucian
bak malaikat turun dari langit dengan sinarnya yang menyilaukan

jarak itupun semakin jauh
terpisah bagai jurang dan tidak banyak yang mau menyebranginya
apalagi menghubungkannya
karena kita hanyalah terbelenggu dogma
terlalu bangga dengan pakaian yang menutup kita
seakan bajunya lah yang paling terang
dan yang lainnya hitam

ingat kawan, dunia bukan tentang kalian saja
tapi juga tentang kita, mereka, kalian, saya, kamu, dia
hiduplah di duniamu sendiri
dan kalian tak akan menyadari realita dunia
berharap pada mimpi-mimpi dan dogma yang tak terafisiliasi

karena kita pakai ‘aku’, ‘saya’, ‘gua’; bukan ‘ana’
karena orang-orang biasa menyebut ‘kamu’, ‘elu’, sebagai kata ganti orang ketiga,

dan dikotomi pun terus berlanjut
inklusifitas pun tinggal kenangan
oknum-oknum pun tak kuasa melawan doktrin jamaah
hei…hei…sudah cukup topeng putih dipakai teman
sekarang saatnya berkubang asap, lumpur dan debu
sampai kapan terlena di rindangan daun-daun surga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s