Insan Akademis yang Ternoda (Tamu Tak Diharap, Menyanyi dan Meminta Sesukanya)

Ada fenomena menarik di kota Bandung ini (mungkin juga terjadi di kota lain). Apa itu?Let we see:
Ketika saya pulang dari tempat teman pada suatu malam minggu yang padat di bilangan Dago, laju saya terhenti oleh rambu warna merah di perempatan. Di situ saya melihat keramaian yang heboh. Ada apa gerangan? mereka ini (yang membuat kehebohan)adalah remaja-remaja yang bergerombol banyak orang dan menyanyi bareng-bareng dengan tidak jelas sambil membawa kardus. Teks lagu mereka sempat saya dengarkan, “seribu aja, seribu ajaaa…”. Mereka menyanyikan itu sambil menghadang atau menutupi jalan dari si mobil yang didekati. Mungkin maksudnya agar si mobil tidak mencoba menghindar. Dan akhirnya dari kaca mobil tersebut, terjulurlah uang kertas yang saya perkirakan sebesar seribu rupiah. Well, setelah mendapatkannya, gerombolan ini pergi ke mobil lain, bahkan mobil ini terus dihadang walaupun rambu sudah menunjukkan warna hijau. Saya pun melaju, dan dalam laju saya itu, saya berpikir terhadap fenomena yang baru saya lihat barusan. Ini adalah cara terbaru para remaja (yang saya duga adalah siswa atau kalau tidak mahasiswa) dalam mengumpulkan dana yang mungkin untuk budget acara mereka.
Hal ini bukanlah pertama kalinya saya temukan kemudian. Dulu saya pernah melihatnya juga, tapi saya tidak menyangka bahwa ini menjadi sebuah tren dari para siswa sekarang ini (saya menemukan hal serupa pada malam minggu-malam minggu berikutnya) dalam mencari shortcut pencarian dana. Sungguh miris saya melihatnya, bagaimana tidak, acara ngamen-mengamen sudah lekat sekali asosiasinya dengan orang-orang jalanan nan tidak punya banyak uang yang mencoba mencari dana lewat menyanyi di jalanan atau dari warung ke warung. Istilahnya, ngamen buat sebagian golongan orang sudah menjadi suatu profesi tersendiri dalam mencari nafkah di lapisan masyarakat. Dan ini, mereka yang mengamen bukanlah orang-orang yang butuh akan uang untuk sekedar makan (I swear it, mereka yang saya sebut di paling atas pastilah orang kaum mampu).
Saya sendiri pribadi sebenarnya juga tidak terlalu menyukai profesi pengamen yang ada di warung-warung dan perempatan jalan. Apalagi bila lagu yang dibawakan asal-asalan dan seperti ‘asal bunyi’. Mending lah bila niat nyanyi nya (masih bisa dinikmati!), kalau kayak begini saya siap memberi lebih (walau tetap saja saya tidak terlalu menyukai profesi ini, sebagaimanapun enaknya mereka membawakan lagunya). Dan bagi saya profesi pengamen hanya boleh disandang bagi mereka yang berniat mencari nafkah darinya. Ingat, ‘nafkah’! yang berarti digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Nah, menjadi tidak adil bila profesi pengamen juga dijalani oleh para siswa/mahasiswa ini. Hei, mereka ini kaum mampu, kenapa juga harus mengamen?tidak adakah cara yang lebih baik dalam kegiatan Divisi Dana Usaha selain mengamen? naif rasanya ‘hanya’ untuk membuat suatu event atau acara(atau kegiatan-kegiatan lain yang sejenis), mereka ini sampai tega menyingkirkan para orang lama (baca:orang jalanan) yang jelas-jelas lebih berhak mengamen.
Mas-mbak, kalian ini kan insan pendidikan (bergelar siswa-mahasiswa gitu!) mengapa sampai tega hati melakukan kegiatan ini? status kalian lho yang menjadi taruhannya. Image dan martabat kalian lho yang bakal jatuh kalau ini terus terjadi. Bukan berarti saya tidak suka karena gengsi, tapi karena status insan akademis lah justru sebenarnya yang membuat kita harusnya malu melakukan ‘ngamen’ things tersebut. Insan akademis harusnya tahu cara mencari dana yang lebih beradab, dan sesuai dengan statusnya sebagai ‘agent of social change’. Ingat cita-cita pendidikan, salah satunya adalah memajukan taraf kehidupan masyarakat. Nah ini, bukannya mencoba membantu masyarakat biar harkatnya menaik, malah mencoba menyerobot ladang usaha mereka. Udah g jelas pula yang dinyanyikannya apa, maksa pula minta duitnya. Ini cerminan yang kata orang ‘generasi penerus bangsa’?

2 responses to “Insan Akademis yang Ternoda (Tamu Tak Diharap, Menyanyi dan Meminta Sesukanya)

  1. agreed
    gw juga pernah ngamen kaya gt, dan sedikit banyak nyesel juga

  2. di Indonesia, ngamen tuh enak lho. duitnya banyak. soalnya dua keinginan saling bertemu. yg didatangi pengame ga pengen denger, jadi ngusirnya pake duit. yang mau nyanyi juga ga butuh didengerin, butuhnya duit. ya udah, kasi duit, terima duit. habis perkara. paling enak klo ngamen di lampu merah. sekali lampu merah bisa berhenti di dua angkot sekaligus. karena polanya seperti di atas, jadi ya setiap orang pasti memberi uang. meskipun didasari rasa kasihan. yang enak ya pengamen, tiap lampu merah bisa dapat duit yang lumayan. hehe😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s