Analisis Final : Barcelona vs Manchester United, Partai yang Menawan

Ada banyak hal yang terjadi pada partai final Liga Champions 08/09 tadi dini hari. Partai yang dimenangkan pihak Barcelona ini menyuguhkan suatu partai yang berjalan ketat, dan terutama yang paling menonjol adalah adu taktik kedua pelatih klub.

Pertandingan ini menunjukkan kapabilitas Pep Guardiola sebagai pelatih muda non-pengalaman yang mampu membuat taktik dari Sir Alex dari kubu MU menjadi deadlock. Banyak sekali detail yang membuat keberpihakan hasil akhir menjadi nyata. Apa sajakah itu, saya ingin mengulas bagian besarnya:

1. Penempatan posisi trisula maut Barca
menjadi kebiasaan kita melihat Messi di kanan, Eto’o di tengah dan Henry di kiri. Hal inilah yang coba diantisipasi oleh Fergie dengan memasang pola 4-3-3 dimana fullbacknya diplot tidak banyak overlapping demi mengontrol pergerakan trisula maut ini. Akan tetapi, Pep mengakalinya dengan menempatkan Messi di tengah dan Etoo di kanan. Ini membuat Evra yang menjaga Messi bingung, dan membuat ruang di lapangan tengah terbuka karena Messi di tengah berhasil menarik 2 sampai 3 orang ke arahnya. Hal inilah yang menyebabkan gol pertama, Iniesta yang mendapat ruang hasil gerakan off the ball Messi mengumpan ke Etoo yang tidak terkawal Evra, dan berhasil mengecoh Vidic dan menyontek bola melewati Van der Sar.

2. Pemilihan Anderson dalam line-up, lini tengah MU yang non-pressing
Ini menjadi kesalahan krusial Fergie malam itu. Anderson yang diplot sebagai pekerja keras di tengah tidak memberi dampak apa-apa selama dia bermain. Menyerang tanggung, bertahan pun ia tanggung. Hampir tidak pernah memberi pressing-pressing berarti pada lini tengah Barca. Ini juga yang menyebabkan gol pertama Barca tercipta. Untung Fergie cepat menyadarinya dan langsung mengganti ia dengan Tevez di jeda babak.

Selepas Anderson pun, ternyata lini tengah MU tidak bisa memberi pressing-pressing ketat pada lini tengah Barca, sehingga bisa kita lihat Xavi dan Iniesta begitu jumawa mengontrol bola di lapangan tengah dan mengalirkan operan-operan satu dua dan wallpass khas Barca dengan lancar. Dan dua gol yang tercipta di partai itu adalah hasil pressing yang payah dari para punggawa lini tengah MU. ini membuktikan bahwa MU benar-benar kehilangan dinamisator pada diri Darren Fletcher. Sang Holding Midfielder Carrick pun trnyata tidak mampu mengontrol tempo dan malah terbawa tempo yang dimainkan Xavi

3. Gol pertama membunuh segalanya
Tak bisa dipungkiri, di awal laga MU memainkan permainan yang baik. Barca pun sempat keteteran dan mencoba mengatur tempo namun gagal. Tapi suatu momen serangan balik terjadi, dimana diawali dengan off the ball ciamik dari Messi dan Henry, membuat ruang bagi Iniesta untuk menerobos bola dan memberi Etoo peluang untuk menunjukkan skillnya membuat gol.

Setelah itu giliran MU yang keteteran. Barca mulai mengambil alih permainan dan mulai tenang. Sebaliknya pada MU, mereka menjadi kalut dan gugup sendiri.

4.Strategi 4-3-3 MU yang gagal
Saya paham mengapa Fergie mencoba menurunkan formasi ini. Saya sudah memperkirakannya. Ronaldo yang ditaruh di tengah sudah pasti untuk mengeksploitasi kecepatan dan kemampuan bola atas si bocah Madeira ini. Dua winger cepat (Rooney dan Park) diplot untuk mengganggu fullback Barca yang diragukan tampil ciamik (walaupun kenyataannya Puyol dan Sylvinho berhasil mematika pergerakan sayap MU sepanjang laga) dan sekaligus mengcover Evra dan Oshea untuk bertahan.

Awal laga strategi ini berjalan baik. Tapi setelah gol pertama, dan makin rapatnya dua wingback Barca, semakin sulit bagi MU membari umpan ke kotak penalti. Praktis selama laga hampir tidak ditemukan peluang berbahaya dari MU lewat sayap. Ronaldo yang disuruh mengeksploitasi bola atas juga terkunci, karena Pep sudah mengantisipasinya dengan memasang duo centerback yang sama-sama mirip tower, Yaya Toure dan Gerard Pique. Kredit khusus diberikan pada Pique karena ia juga sanggup menghentikan kecepatan Ronaldo dan sayap-sayap MU.

Menyadari strategi ini sudah gagal total, di tengah babak kedua Fergie menggelar formasi 4-4-2 menjurus ke 4-2-4 dengan menggeser Ronaldo ke habitat aslinya di sayap. Tapi tetap, kondisi deadlock menghantui MU, membuat Ronaldo frustasi (karena juga berhasil dijaga dengan baik oleh Puyol, walaupun Puyol sendiri sering melakukan overlapping). Kondisi ini memang sudah diperkirakan Pep, karenanya Henry langsung diganti dengan Keita. Keita, pemain dengan naluri bertahan tinggi, ditempatkan di sisir kiri demi meredam sayap kanan MU yang mencoba mengalahkan Sylvinho yang dianggap titik lemah, yang sayangnya, malah bermain tanpa celah tadi malam.

5. Skill individu yang menentukan semuanya
Tak dipungkiri, di pertandingan ini pemain Barca lebih bisa leluasa mengeksplore skillnya dibanding pemain MU. Messi yang kecil tapi liat sehingga selalu bisa menarik 3 sampai 4 orang ke arahnya, Xavi dengan operan-operan presisinya, Etoo yang lincah merepotkan ‘tembok’ Vidic, Iniesta yang menguasai segalanya di malam itu, Pique yang tenang yang mengingatkan kita pada sosok Lothar Matthaeus, Puyol yang sukses meredam Rooney di babak pertama dan Ronaldo di babak kedua dan tetap mampu overlapping dengan baik sampai-sampai mendapat peluang emas di menit 70-an, dan jangan lupa peranan Sergio Busquets. Orang ini banyak dilupakan di laga final malam tadi, tapi sebenarnya perannya krusial dengan sukses meredam determinasi Giggs dan Carrick sekaligus.

Sebaliknya pada kubu MU. Hampir semua pemain MU kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Pressing dan permainan tempo yang digelar Barca membuat pemain MU berada pada kondisi sulit luar biasa. Kita bisa melihat Rooney yang tak mampu membari passing-passing berbahaya, Ronaldo yang bahkan seperti tak melakukan apa-apa sepanjang laga (walaupun di awal laga sempat membahayakan), Carrick melakukan kesalahan-kesalahan sendiri, Evra yang sering miskomunikasi, Park yang bertenaga, tapi sayangnya hanya terlihat seperti berlari-lari tanpa tujuan karena tak mendapat ruang dan Giggs, pemain senior dengan ciri khasnya yang malam tadi tidak keluar sama sekali.

Hal di atas hanya beberapa dari semua momen-momen penting sepanjang laga. Tapi jelas, bahwa hal-hal di atas adalah penempaan strategi yang coba digelar demi mengubah hasil pertandingan. Hasilnya?kita sama-sama tahu bahwa Barcelona lah yang keluar sebagai pemenang. Selamat Barca!Selamat Pep, di usia yang baru 38 tahun telah merebut treble winners, yang baru dirasakan Fergie bersama MU setelah 13 tahun membesut tim.
Keberanian menarik banyak pemain dari Barcelona B ternyata sebuah perjudian yang membawa dampak besar. Dan sematan pujian sebagai tim terbaik Eropa (bahkan dunia) tahun inipun menjadi demikin shahih.  Pemberian piala oleh Michael Platini seakan menjadi akhir dari epik apik yang coba disuguhkan oleh Barca sepanjang musim ini. Selamat sekali lagi untuk Barcelona, sang pengusung sexy football sejati. Buon Azulgrana!!

Laksito Hedi Dwi Nugroho

Mahasiswa pemerhati sepakbola, seorang penggemar klub AC Milan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s