Mencari Pemaknaan Dalam Hidup

tulisan ini dibuat sebagai pemenuhan tugas bagi PROKM 09, jenjang awal kemahasiswaan ITB.

Seringkali kita berujar, “untuk apa kita hidup? bagaimana kita mengisi kehidupan? Mengapa hidupku seperti mengalir bagai air saja? Kenapa kita seperti pernah mengalami suatu episode kosong dalam hidup?” dan lain-lain yang substansinya sama.

Ya, pertanyaan itu sering didengungkan oleh orang, sering saya dengar, dan tak pelak pernah saya dengungkan juga. Mengapa itu pernah terlontar dalam pikiran setiap insan?karena kita miskin akan pemaknaan dalam hidup. Yap, saya adalah bagian orang yang setuju dengan apa yang disebut dengan mencari makna dalam setiap perbuatan.

Sebelumnya apa itu makna? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata makna adalah : arti; maksud pembicara atau penulis; pengertian yg diberikan kpd suatu bentuk kebahasaan. Dan di sini saya mencoba men-terminologi-kan apa yang disebut pemaknaan hidup. Menurut subyektif saya, pemaknaan adalah suatu sikap dalam diri untuk mengambil nilai-nilai dan pelajaran yang berarti yang pernah kita hadapi dalam hidup dan mengaplikasikannya untuk selalu mencoba melakukan yang terbaik dan berarti dalam hidup, baik itu bagi kita sendiri, orang lain, bangsa dan agama kita.

Viktor Frankl memberi definisi tentang makna hidup itu seperti ini: “Makna hidup adalah sesuatu hal yang dirasa sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Bila makna hidup bisa dipenuhi, maka seseorang akan merasakan kehidupan yang berarti. Pada gilirannya, penemuan makna hidup ini akan menimbulkan kebahagiaan dan sukacita.”

Lalu pertanyaan selanjutnya, “mengapa hidup perlu dimaknai ?”. Jawabannya adalah agar seluruh aspek kehidupan yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia. Saya berprinsip bahwa hidup itu punya tujuan, dan tujuan itu tidak akan pernah tercapai bila kita tak pernah memaknai hidup. Bagaiman kita bisa mencapai tujuan hidup, apabila mayoritas kehidupan kita menganut sistem contentless ? hidup tanpa konten dan tak beresensi adalah omong kosong.

Proses pemaknaan membuat langkah hidup kita menjadi membaik dari hari ke harinya. Ibarat pepatah ‘hanya tupai yang jatuh pada lubang yang sama’, maka memaknai hidup membuat kita tidak jatuh pada kesalahan yang sama. Hidup kita makin berkembang dari waktu ke waktu, bukan malah memburuk dan akhirnya jatuh terperosok ke lubang yang sangat dalam. Rasulullah sang pembawa wahyu Al-Quran sendiri pernah bersabda “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin dia beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dia rugi dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin dia celaka”. Dalam hadits ini disebutkan secara implisit agar kita dapat memaknai perjalanan kehidupan kita, mengambil pelajaran daripadanya, sehingga kita dapat menjadi orang yang beruntung yang hari saat ininya lebih baik dari hari kemarin.

Apabila tulisan di atas berkesan hanya teoritis dan retorika belaka, mari kita mencoba melihatnya secara praktikal. Contoh paling sederhananya adalah seperti seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah hanya untuk rutinitas belaka. Masuk kelas, langsung ambil tempat paling pojok dan belakang lalu lekas tidur. Selesainya, langsung pulang, dan dilanjutkan dengan tidur lagi, atau paling banter main game DOTA misalnya. Orang seperti inilah yang disebut contentless. Ia tidak menyadari apa gunanya ia hidup. Artinya adalah, ia tidak pernah memaknai hidupnya.

Bandingkan dengan contoh yang kedua ini. A adalah mahasiswa yang rajin mengembangkan diri. Ia berprinsip agar bisa bermanfaat bagi orang banyak. Belajar formal, mengikuti pelatihan diri, berorganisasi, mengikuti pengabdian masyarakat, menjadi aktivis dakwah dll. Ia sadar akan hidupnya. Ia mengaktualisasi diri, memfungsionalisasikan perannya, mengejewantahkan ideologinya. Ia memaknai hidupnya sebagai seorang mahasiswa. Bahwa mahasiswa adalah untuk lingkungannya, bangsa dan agamanya. Bukan bersikap egosentris penganut selfisme.

Hal di atas hanya contoh saja, yang menginterpretasikan apa yang saya maksud di awal tentang pemaknaan hidup. Contoh lainnya (saya mengambil kisah yang religius) adalah kisah seorang nabi bernama Ibrahim. Ia memaknai hidupnya sebagai pengabdian terhadap Tuhannya. Apa yang disuruh oleh Allah, akan ia kerjakan. Lalu Allah menyuruh beliau untuk menyembelih Ismail anaknya sendiri. Walau dengan hati galau, toh Ibrahim mantap menjalankan perintah Allah itu untuk menyembelih anaknya. Dan hasilnya Allah pun mengangkat derajat Ibrahim di atas semua manusia.

Menurut saya ada beberapa sifat dasar bagi seseorang yang mamaknai hidupnya dengan baik. Diantaranya adalah :
Selalu bersikap optimistis kapanpun dimanapun serta inovatif . Karena bagi dia, hidup harus selalu diisi dengan hal yang lebih baik ke depannya.
• Tidak pernah terpuruk dalam menjalankan kehidupan. Itu dikarenakan ia selalu dapat mengambil hal-hal positif dan belajar dari kehidupannya di masa lampau.
• Hidupnya selalu bermanfaat dan tidak pernah useless. Ingat, bahwa orang yang tidak berkonten dan suka tidak jelas mau berbuat apa bisa dikategorikan tidak memaknai hidup.
• Memiliki ideologi dan idealisme yang kuat
• Selalu berpikir positif dalam menjalankan kehidupan

Menjadi sosok seperti di atas yang selalu memaknai hidup tentu tidak mudah. Pasti ada kalanya kita mengalami fase stuck dimana kita tidak tahu harus berbuat apa dan merasa hidup yang pernah kita jalani adalah sia-sia belaka. Bagi saya, itu adalah hal yang alamiah. Yang terpenting adalah waktu yang dihabiskan oleh fase itu tidaklah lama.

Setiap orang punya tujuan hidupnya masing-masing. Artinya adalah, setiap orang memaknai hidupnya dengan cara pandang yang berbeda-beda. Sehingga, bagaimana cara seseorang memaknai hidup pun memiliki bentuk yang berbeda-beda pula. Tapi proses memaknai hidup itu sendiri ada jalannya. Seperti yang diungkap Aristoteles dalam pembukaan buku Metaphysics-nya “Manusia dari kodratnya ialah makhluk yang ingin mengetahui”. Artinya apa? itu berarti bahwa memaknai hidup tidak terlepas dari proses belajar sepanjang hayat. Pembelajaraan hidup adalah peran vital dalam pemaknaan hidup. Manusia pembelajar sejati adalah manusia beruntung karena ia berhasil memaknai hidup.

Spesifiknya adalah sebagai berikut. Seseorang dikatakan memaknai hidup ketika dia melakukan hal berikut :
• Belajar dari masa lalunya dan mengkreasikannya untuk kepentingan masa depan
• Mampu memetik pelajaran berharga dari peristiwa apapun yang terjadi di sekitar kehidupannya
• Mencanangkan tujuan hidupnya dengan jelas dan berusaha dengan keras dalam mencapainya
• Segala tindak-tanduknya menunjukkan sifat-sifat yang telah saya sebutkan di atas

Berpikir positif adalah salah satu aspek yang paling penting dalam proses hidup yang dimaknai ini. Abraham Lincoln pernah berkata “kebanyakan orang berbahagia bila ia menghendaki bahagia dalam pikirannya”. Artinya yaitu kebahagiaan berasal dari dalam, dari manusia sendiri, bukan dari faktor eksternal yang mempengaruhinya. Lalu ada juga nasehat dari Wiliam James, seorang filsuf “ banyak hal yang kita sebut sebagai kejahatan dan kemalangan … seringkali dapat diubah menjadi kebaikan dan keberuntungan, hanya dengan jalan mengubah sedikit saja sikap batin si penderita dari rasa takut menjadi semangat berjuang”. Intinya ada pada diri kita sendiri, baik itu pikiran maupun perasaan kita sendiri.

Sebagai penutup, saya ingin menceritakan tentang seseorang yang saya kagumi. Ia adalah Paolo Maldini, seorang legenda sepakbola dunia, baik di klubnya AC Milan maupun timnasnya Italia. Saya ingat ia pernah berkata yang intinya “saya memandang industri sepakbola sebagai pengabdian dan loyalitas. Saya tidak berbicara tentang uang, tapi perasaan kita terhadap sepakbola itu sendiri. Mencintai sepakbola adalah inti dari segalanya”. Benar bahwa ia ‘hanya’lah seorang pesepakbola belaka. Tapi lihatlah apa yang ia maknai terhadap sepakbola yang kita sepelekan itu. Sungguh dalam dan substansial sekali.

Kesimpulannya adalah menjadi pribadi yang tidak memaknai hidup adalah kesia-siaan belaka. Hidupnya dapat diibaratkan daun yang mengalir di sungai, tak tahu akan dibawa kemana dan akan bernasib seperti apa nantinya. Hidup harus dimaknai, caranya dengan selalu menjadi manusia pembelajar (dengan otak dan hati kita) untuk mencapai tujuan hidup yang kita inginkan. Teman, marilah kita memaknai hidup, agar dunia ini diisi oleh orang-orang pembelajar yang akan menjadikan dunia kita selangkah lebih maju lagi. Amin

One response to “Mencari Pemaknaan Dalam Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s