Cerita dibalik PRABA AMERTA (part 1)

Cerita ini diawali ketika saya ingin menjadi panitia PROKM 09 bareng-bareng dengan panitia keamanan (yang 2008) Olimpiade V KM ITB. Karena basic kita keamanan, jadi kita sepakat mau jadi keamanan lagi di PROKM ini (walau nanti akhirnya saya, Sandi, dan Nindi membelot ke taplok). Lalu dimulailah masa-masa diklat itu. Diawali dengan diklat terpusat yang fokusnya pada materi umum yang berkisar kata filosofi, pengertian, dan esensi. Diawali dengan materi tentang visi hidup akan konsep Ketuhanan, lalu dilanjutkan dengan filosofi pendidikan (yang merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantara), lalu berujung pada profil mahasiswa ideal menurut filosofi pendidikan itu sendiri, ada juga materi tentang konsepsi kemahasiswaan KM ITB dan juga lainnya.

Di tengah perjalanan diklat, saya menyadari bahwa tujuan saya jadi panitia PROKM ini jadi begitu bias kalau saya tetap ingin jadi keamanan. Sampai pada tahap ini saya sudah menetapkan tujuan saya ikut prokm, yaitu untuk dapat menginspirasi anak-anak baru 09 akan dunia kampus seperti saya yang terinspirasikan oleh para dewa-dewa kampus yang sekarang sudah lulus/mau lulus. Jadilah kemudian saya mengubah haluan saya dan memilih menjadi taplok, dengan pertimbangan bahwa orang yang paling sering berinteraksi dengan anak 09 adalah taplok; bukan keamanan, medik, atau bahkan danlap.

Dan pada suatu malam, kami calon panitia lapangan dibagikan slayer berwarna sesuai dengan pilihan divisinya. Saya pun mendapatkan biru muda, warna representasi dari taplok. Lalu dimulailah diklat-diklat lapangan dan diklat divisi. Taplok dibagi ke beberapa kelompok yang disebut keluarga, dan saya masuk ke keluarga MAIN CONGKLAK. Pertama kita disuruh membuat mind-map tentang visi hidup kita ke depan, lalu ada juga materi diklat tentang komunikasi dimana kita diperintahkan membuat peta lokasi basecamp dan kondisinya, kemudian ada wawancara dengan orang tak dikenal tentang ‘Indonesia ke Depan'(yang sayangnya tidak pernah diperiksa) dll. Pada akhir-akhir diklat divisi mulai tercium sedikit demi sedikit bau-bau agitasi dalam diklat taplok.

Dimasa itu juga ada diklat buat yang mau jadi komandan batalyon alias danyon. Di awal-awal, saya mengikutinya, didorong oleh rasa ingin berbuat lebih dan juga dorongan dari beberapa orang. Tapi kemudian saya cuma ikut 2 kali, karena kemudian saya memutuskan untuk jadi taplok biasa, dibandingkan melanjutkan seleksi danyon(haha…padahal kalau ikutan terus hasilnya mungkin juga gagal:D). Kenapa begitu?karena saya merasa untuk dapat mencapai tujuan awal saya untuk ikut prokm ini dapat lebih mudah tercapai bila saya jadi taplok biasa yang 100% berinteraksi dengan anak baru 09, dibandingkan jadi danyon yang tidak punya slot waktu interaksi banyak.

Lalu sampailah kita di masa pengukuhan caplok (calon taplok) menjadi taplok. Acara malam itu tidak jadi dilaksanakan karena kurangnya kuorum. Yang terjadi malah diskusi hangat(kalau tidak bisa dibilang panas) dengan bintang pada malam itu adalah Putri fi07(terbukti dgn terpilihnya beliau sebagai pendiklat tergalak), salah satu pendiklat yang merasa kecewa dengan performance kami (caplok) selama diklat berlangsung.

Besok malamnya, akhirnya acara pengukuhan itu dilaksanakan. Bertempat di depan Sekre KM. Sebelumnya kami dikumpulkan dulu di lap. eks segitiga. Di situ kami diagitasi, atau lebih tepatnya dalam bahasa saya adalah di-beo-in. Suara-suara bernada tinggi (maklum, sedang flow tinggi) saling bersahutan. Di situ juga ada skenario penghukuman untuk pendiklat yang dianggap gagal mendidik sang caplok (alias kami). Mereka (baca:pendiklat) akhirnya dihukum push-up oleh danlap yunus, lalu kemudian ada yang ikut-ikutan push-up dari pihak kami juga, diiringi suara-suara interupsi dari anak-anak lain. Arah dari semua itu sudah terlihat, mereka ingin mengecek inisiatif kami, melihat bahwa analisis kondisi kelemahan angkatan kami 08 adalah lemah saat ditekan dan kurang inisiatif.

Setelah semua itu, kami disuruh mencari danlap Faris di sekitar kampus. Saya langsung beranjak ke sekre KM (karena tak sengaja mendengar kata ini terucap ketika saya melewati kumpulan pendiklat pada sorenya). Benar, ia di depan sekre KM, lengkap dengan setting lampu sorot. Setelah melontarkan beberapa pertanyaan yang saya anggap cukup berbau retoris, kemudian dibacakanlah surat keputusan yang (kebetulan) bernomor 123 itu oleh saudara Ariza Aryani GD07, koordinator divisi taplok. Merasa senang, kamipun melantunkan yel-yela taplok kebanggaan kami. Dan sejak itu, resmilah saya dan teman-teman saya menjadi seorang panitia taplok PROKM 09.

One response to “Cerita dibalik PRABA AMERTA (part 1)

  1. menarik..

    sampai kapanpun..perasaan iri tetap ada dgn segala kondisi tahun 2006 yg getir tiada tara..
    tapi gw bangga mengalami masa itu

    tapi sampai kapanpun aku bangga sebagai seorang keamanan..memang bukan taplok,tapi setidaknya menjadi Wira Ksatria sang keamanan..insya allah gw bisa mengispirasi adik2ku untuk berkarya di ITB..baik itu yg sukses di Rumah Belajar,INKM,PSB dll…baik mengisnpirasi adik2 di SR,LFM atau yg lainnya,bahkan anak 2008 yg menjadi angkatan kesayangan gw..mungkin gw ga mengisnpirasikan elo To..Tapi gw bangga dgn langkah lo sampai detik ini..

    dan aku bukan dewa….aku hanya ingin berkarya untuk kampusku sendiri..dan sejarah hidupku sendiri…

    semoga kau jauh lebih hebat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s