Merenungi Hidup (Ramadhan) Kita

Makna. Apa itu makna?.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata makna adalah : pengertian yg diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Dan di sini saya mencoba men-terminologi-kan apa yang disebut pemaknaan hidup. Pemaknaan adalah suatu sikap dalam diri untuk mengambil nilai-nilai dan pelajaran yang berarti yang pernah kita hadapi dalam hidup dan mengaplikasikannya untuk selalu mencoba melakukan yang terbaik dan berarti dalam hidup.

Viktor Frankl memberi definisi tentang makna hidup itu seperti ini: “Makna hidup adalah sesuatu hal yang dirasa sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Bila makna hidup bisa dipenuhi, maka seseorang akan merasakan kehidupan yang berarti. Pada gilirannya, penemuan makna hidup ini akan menimbulkan kebahagiaan dan sukacita.”

Lalu pertanyaan selanjutnya, “mengapa hidup perlu dimaknai ?”. Jawabannya adalah agar seluruh aspek kehidupan yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia. Hidup itu punya tujuan, dan tujuan itu tidak akan pernah tercapai bila kita tak pernah memaknai hidup. Bagaimana kita bisa mencapai tujuan hidup, apabila mayoritas kehidupan kita tak lebih dari kegiatan tak berguna ? hidup tanpa konten dan tak beresensi adalah omong kosong.

Proses pemaknaan membuat langkah hidup kita menjadi membaik dari hari ke harinya. Ibarat pepatah ‘hanya tupai yang jatuh pada lubang yang sama’, maka memaknai hidup membuat kita tidak jatuh pada kesalahan yang sama. Hidup kita makin berkembang dari waktu ke waktu, bukan malah memburuk dan akhirnya jatuh terperosok ke lubang yang sangat dalam. Rasulullah sang pembawa wahyu Al-Quran sendiri pernah bersabda “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin dia beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dia rugi, dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin dia celaka”. Dalam hadits ini disebutkan secara implisit agar kita dapat memaknai perjalanan kehidupan kita, mengambil pelajaran daripadanya, sehingga kita dapat menjadi orang yang beruntung yang hari saat ininya lebih baik dari hari kemarin.

Kita menyadari bahwa setiap orang punya tujuan hidupnya masing-masing. Artinya adalah, setiap orang memaknai hidupnya dengan cara pandang yang berbeda-beda. Sehingga, bagaimana cara seseorang memaknai hidup pun memiliki bentuk yang berbeda-beda pula. Tapi proses memaknai hidup itu sendiri ada jalannya. Seperti yang diungkap Aristoteles dalam pembukaan buku Metaphysics-nya “Manusia dari kodratnya ialah makhluk yang ingin mengetahui”. Itu berarti bahwa memaknai hidup tidak terlepas dari proses belajar sepanjang hayat. Pembelajaran hidup adalah peran vital dalam pemaknaan hidup. Manusia pembelajar sejati adalah manusia beruntung karena ia berhasil memaknai hidup.

Sekarang kita telah menginjak bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah bagi setiap insan muslim. Bulan dimana setiap ritual keagamaan yang umat Muslim lakukan akan dianggap ibadah. Bulan Ramadhan adalah proses, bukan sebuah final. Bulan ramadhan adalah tempat kita ditempa sebaik-baiknya agar kita menjadi insan yang lebih baik saat tiba waktunya bulan Ramadhan habis. Dan disini, itulah pentingnya kita memaknai hidup kita. Menjalankan ribuan ibadah di bulan suci ini akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka bila tanpa dimaknai. Tanpa pemaknaan, maka tak ada juga proses pembelajaran. Tak ada pembelajaran, maka kehidupan kita setelah ramadhan akan tak ada bedanya dengan ketika sebelum Ramadhan. Padahal hal seperti itu dikatakan Rasulullah sebagai umat yang merugi. Janganlah kita menjadi umat beragama yang tidak pernah mengerti akan esensi setiap kegiatan keagamaan kita.

Bagi umat beragama yang lain, maknailah bulan suci bagi umat Islam ini sebagai momen dimana kita belajar ber-toleransi dan menempa semangat ke-Bhinneka TUnggal Ika-an kita. Keagamaan adalah isu yang sangat sensitif di negara Indonesia. Tapi mari kita tunjukkan diri kita sebagai pemuda Indonesia (dalam bahasa ITB disebut putra-putri terbaik bangsa) bahwa isu perbedaan bukanlah bahan yang tepat untuk memecah belah bangsa kita. Percayalah bahwa umat beragama yang baik adalah yang menghayati ajaran agamanya dengan baik, yang menggunakan otak dan hatinya untuk dapat memilah yang baik dan yang buruk, bukan sekedar percaya isu yang coba dihembuskan pihak luar yang menginginkan perpecahan.

Teman, hidup kita harus terus dimaknai, caranya dengan selalu menjadi manusia pembelajar (dengan otak dan hati kita) untuk mencapai tujuan hidup yang kita inginkan. Tujuan hidup yang kita yakini kebaikannya dan membawa kemaslahatan bagi umat. Ayo marilah kita memaknai hidup, agar dunia ini diisi oleh orang-orang pembelajar yang akan menjadikan dunia kita selangkah lebih maju lagi. Amin

One response to “Merenungi Hidup (Ramadhan) Kita

  1. maknailah hidupmu…dengan jiwa yg paling bersih yang lo bisa

    menjadi orang dengan sisi gelap..rasanya sakit….
    berbahagialah kalian yg tidak mempunyai ujian seberat saya untuk merubah hidup diri sendiri..

    saya punya arah..dan saya ingin mencerahkannya..tidak gelap seperti saat ini…
    aku ingin sembuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s