Geliat Industri Keramik Dalam Lingkup Kebijakan

Saya sebenarnya termasuk awam dalam dunia teknik material, tapi pingin nulis tentang dunia material, karena saya tertarik dengan dunia kebijakan publik jadi coba saya kaitkan. Semoga berkenan.

Yang saya tahu dunia material dibagi jadi 3 macam,; logam, polimer dan komposit, serta keramik. Kita patut berbangga bahwa negara kita punya pemain besar di masing-masing sector industry. Di logam kita punya Krakatau Steel (walaupun kalau kata Pak Slameto dosen saya kapasitas produksinya jauh lebih sedikit dibanding Jepang). Di komposit ada Maspion (yang bahkan merambah banyak bidang) dan di keramik salah satunya ada Primanusa (yang pada 08 lalu sempat berinvestasi mencapai US$40 juta)

Saya cukup tertarik dengan dunia keramik akhir-akhir ini. Apalagi bila dilihat dengan kondisi sosial Indonesia saat ini. Beberapa tahun belakangan ini (sebelum krisis ekonomi dunia 2009) kita tahu bahwa industry property sedang bergeliat dengan hebohnya. Dimana-mana kita lihat pembangunan mall-mall, aparteman-apartemen, perumahan-perumahan baru. Kemajuan industry property menjamin satu hal, bahwa industry penyokongnya akan bergerak juga. Maka industry keramik yang menjadi salah satu pemain nya tentu juga punya ekses positif akibat booming property ini.

Sebelum berbicara tentang industry keramik (terutama konvensional) mari kita amati industry baja misalnya. PT. KS pada 2008 lalu sempat heboh karena butuh investor baru agar dapat menghidupkan bisnisnya, dan waktu itu perusahaan raksasa Mittal sempat mengajukan diri ke SBY untuk mengakuisisi. Pada salah satu sumber yang saya baca PT. KS ini bahan bakunya 70% dari hasil impor dengan kapasitas produksi cuma 2, 5 juta ton per tahun (bandingkan dengan Mittal yang 120 juta ton). Padahal kebutuhan Indonesia akan produksi baja sekita 7 juta ton per tahun. Kenapa bisa begitu, padahal Indonesia punya SDA sendiri? Karena KS butuh investasi besar untuk mengubah proses produksinya yang memakai teknologi reduksi langsung. Makanya KS sulit berkembang. Pilihannya bak simalakama bagi pemerintah, menjual KS berarti kebutuhan produksi baja untuk Indonesia terpenuhi, serta aspek pasar dunia mampu disentuh oleh KS, tapi di lain pihak berarti BUMN ini tidak dikembangkan bangsa sendiri dan hanya memberikan keuntungan finansial bagi pihak asing saja.

Bila dibandingkan industry keramik dan logam dalam negeri kita mendapati bahwa industry keramik dalam negeri tidak banyak mengalami kendala teknologi. Ini berarti kita dapat mereduksi campur tangan pihak asing di sini. Ini juga yang menyebabkan banyak pemain local baik skala mikro maupun menengah bertumbuhan dengan baik.

Pada 2008 lalu, Achmad Wijaya (Ketua Umum Asosiasi Keramik Indonesia) mengatakan industry keramik menyumbang 15 triliun rupiah sebagai pendapatan negara. Suatu angka yang tidak terlalu besar mungkin dari segi nominal, tapi tetap membanggakan karena para pemainnya mayoritas orang pribumi dan berasal dari sector UKM. Apalagi pada tahun 2008 kemarin pertumbuhan eksport keramik mencapai 6%.

Bagi saya, industry keramik begitu besar artinya karena industry ini padat karya. Pertumbuhan UKM keramik menjamin banyaknya lapangan pekerjaan yang disediakan, yang berarti menaikkan daya beli masyarakat. Daya beli yang naik akan berekses pada transaksi ekonomi yang banyak yang berarti kesejahteraan msayarakat meningkat. Apalagi bahan baku yang dibutuhkan dapat dipasok dari dalam negeri. Dalam situs Departemen Perindustrian dan juga Dinas Pertambangan daerah Jawa Timur disebutkan bahwa daerah pesisi seperti Tuban dan Pacitan punya potensi alam besar dalam pembangunan industri keramik. Kalau bahan baku sudah ada, dana investasi yang relative tidak terlalu besar dibanding industry bidang material lain, dan teknologi juga anak bangsa bisa melakukannya sendiri, bukankah itu berkah luar biasa bagi negeri ini? Potensi munculnya technopreneur-technopreneur baru pun akan menjadi besar

Tinggal peranan para pemegang kebijakan publik (baca : pemerintah) yang dibutuhkan sekarang. Iklim perekonomian harus dikondusifkan. Peranan pihak-pihak lain seperti Ditjen Bea dan Cukai (BC), Depkeu, Depdag, dan Depperin harus disinergikan. Yang saya tahu Bea Cukai sudah mendukung dengan baik dengan cara banyak menyortir dan menahan barang-barang import guna menyelamatkan pelaku dalam negeri.

Pihak perbankan juga harus meningkatkan peran supportnya. Selama ini pihak ini yang sering mengganjal industry keramik. Industri keramik sering disepelekan dan dianggap tidak menjanjikan ke depannya. Banyak proposal kredit ditolak karena itu. Ditambah dengan banyaknya bank bermasalah akibat krisis likuiditas 2009 kemarin (gara-gara Lehmann Brother nih!). Ini menjadi kendala sebab pinjaman modal menjadi peran utama dalam pengembangan produksi serta kapasitas eksport. Tak ada modal berarti industry mengalami stagnansi.

Pemerintah juga harus membuat pemetaan pasokan energy guna memastikan bahwa pasokan gas dan listrik bagi industry keramik dapat terpenuhi. Selama ini pasokan hanya mencapai prosentasi sebesar 70-80% saja dari kebutuhan. Selain itu pemerintah juga harus memastikan Perda-Perda yang nakal harus dihapus. Ini dikarenakan seringnya pungutan liar yang ditagih sehingga menaikkan rancangan biaya perusahaan.

Terakhir, pemerintah harus menjamin bahwa KPR (Kredit Pemilikan rumah) turun, karena industri keramik beritegrasi dengan properti, maka bangkitnya kembali pasar properti ikut mendorong penjualan keramik. Apalagi pemerintah sedang galaknya membangun RSH (Rumah Sederhana Sehat), tentu ini bisa jadi pasar potensial bagi pemain industri ini. Pembangunan masyarakat kecil (KPR turun, RSH berdiri) dapat direalisasikan, sector swasta pun menikmati hasilnya. Yang diuntungkan ujung-ujungnya bangsa Indonesia juga.

Untuk Indonesia Mandiri, karena kita cinta Indonesia 😀

Laksito Hedi MTM08 –anak material itb yang sangat berusaha mencintai jurusannya. tertarik dengan dunia citizen planning.

One response to “Geliat Industri Keramik Dalam Lingkup Kebijakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s