Industri Kreatif untuk Bangsaku

Saya memanggilnya kreativitas. Yaitu kemampuan untuk berdaya cipta yang memiliki added value. Kreativitas bukanlah sesuatu yang langsung bisa didapatkan melalui berbagai macam buku dan rumusan-rumusan. Kreativitas muncul ketika terdapat proses interaksi yang intens antara pemikiran dan realitas. Realitas yang kadang semakin menghimpit diri, dan di suatu konsep komunitas di negeri ini, muncullah para pelakon hidup dengan segala keterbatasannya. Merekalah yang selalu memiliki modal berharga bernama Kreativitas, mereka yang kita panggil Usaha Kecil dan Menengah.

Industri kreatif dalam diskursus konsep ekonomi mulai marak pada era Milenium kedua ini, dimana gejalanya adalah banyak munculnya usaha kecil dan sektor informal, termasuk di Indonesia. Perbedaan mendasar Indonesia dengan negara luar adalah, di luar sana industri kreatif dibasiskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan di Indonesia lebih banyak bersumber pada nilai-nilai dan kearifan lokal yang coba terus diangkat.

Maka ijinkanlah saya membahasnya sekarang pada konteks industri kerajinan. Kita tahu dan pasti sadar bahwa begitu banyak karya budaya kita yang eksotis dan mencitrakan keluhuran budaya rakyat Indonesia. Dan hal ini mestinya juga dapat menjadi kekuatan ekonomi Indonesia di mata dunia. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa kekuatan ekonomi negara ini ditopang oleh sektor UKM dan informal, yaitu unit ekonomi berbentuk usaha rumah tangga.

Industri ini patutlah dikembangkan. Bahwa suatu keniscayaan ketika kita menyebut perekonomian Indonesia didasarkan pada perekonomian berbasis rakyat kecil. Rakyat yang memproduksi, rakyat yang memberi nilai tambah sebesar-besarnya, dan rakyat pula yang nantinya akan menikmati hasilnya. Maka kemudian menjadi tugas bersama kita semua untuk menumbuhkan iklim yang baik bagi perkembangan industri kreatif ini.

Hasilnya mulai terlihat sekarang ini. Berbagai macam pameran muncul, training-training dan workshop pun menjamur, dan juga angel investor yang mulai banyak melirik industri ini. Permasalahannya adalah, proses ini harus kita kawal dengan baik, jangan sampai ini hanya jadi pelangi, indah namun hanya sekejap saja. Pihak pemerintah harus mendayagunakan badan mereka dengan benar sehingga birokrasi tidak berputar-putar, insentif berjalan dengan baik, dan memunculkan kebijakan yang pro pada menumbuhkan daya saing yang berkualitas di negeri ini (bukan memberi ruang bebas bagi para pemodal besar yang akan mematikan industri kecil). Sehingga para pelaku yang sudah turut bermain sejak lama mampu survive, dan muncul juga para sociopreneur dan creativepreneur baru yang dinamis dan inovatif.

Oleh karenanya, mestinya butuh usaha ekstra lagi agar konsep hubungan triple helix dapat berjalan dengan sinergis, yaitu antara kaum cendekiawan, para pembuat kebijakan dan pihak bisnis. Hal ini patut dijadikan fokus utama agar pondasi industri kreatif yang telah dibangun ini dapat berjalan terus dan akhirnya menjadi suatu bangunan yang kokoh dan  berkesinambungan seperti tertera di Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025.

Mari kita sebut itu kreativitas. Sebuah kekuatan luar biasa yang mampu membangun kemandirian Indonesia.

One response to “Industri Kreatif untuk Bangsaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s