Debat Ketua IA ITB, Sepanas Ketika Masih Mahasiswa

Pada bulan November ini, saya dua kali mengikuti agenda resmi Pemilu Ketua IA ITB, yang pertama di Gedung Telkom Jakarta pada awal November, dan yang kedua di Gedung Sate Bandung pada tanggal 19 November. Kenapa saya rela-relanya datang pada suatu forum yang jelas-jelas bukan diperuntukkan bagi saya yang notabene belum alumni?Ada yang menarik terkait ini. Saking seringnya saya hadir pada forum-forum alumni seperti ini, saya selalu ditanya oleh beberapa alumni yang kenal dengan saya “ngapain lo kesini?mau minta dana ya?”. Tentu saja pertanyaan itu bersifat bercanda. Saya tertawa dalam hati. Bukan rahasia memang kalau citra mahasiswa makin ke sini adalah mendekat ke alumni untuk minta bantuan dana terkait acara-acaranya.  Atau ada kalimat lain “Menteri Hublu mau mulai dekat-dekat calon ketua IA ya?”. Ini pun saya hanya tersenyum.

Jawabannya bisa beragam. Secara pribadi saya memang tertarik dengan IA ITB. Isinya, tujuannya, ngapain aja, dan siapa yang terlibat banyak di dalamnya. Momen Pemilu Ketua IA ITB tentu adalah pesta bagi IA ITB sendiri, dan inilah yang menarik bagi saya. Mau tidak mau, IA ITB adalah wadah bagi saya nantinya ketika sudah berstatus alumni. Dengan potensinya yang besar, bukankah suatu kerugian bila kita yang notabene nantinya bagian dari IA ITB tidak tahu dan akhirnya tidak memanfaatkan potensi dan fasilitas yang ada pada IA ITB?

Secara organisasi, disana saya membawa nama KM ITB. Saya ingin menunjukkan bahwa Kabinet tidak hanya dekat dengan IA ketika ada maunya saja. Setidaknya melihat tanggapan dari pengurus Kongres IA, pengurus IA era pak Hatta, serta juga sempat terlibat obrolan dengan para kandidat, beliau semua memberikan respon yang baik . Membangun hubungan baik dengan IA ITB itu begitu penting, karena alumni adalah stakeholder utama bagi pembangunan institusi ITB dan tentu saja juga bagi kemahasiswaaan ITB.

Mengikuti debat di kedua venue itu, satu kesan paling kuat saya dapat, Panas Kawan! Saling serang antar calon atau antar pendukung masing-masing calon tidak terelakkan.  Pertanyaan-pertanyaan, ungkapan dukungan yang memojokkan calon lain, bahkan saling lempar sindiran menjadi hal yang terlihat biasa disini. Saya jadi teringat forum-forum mahasiswa di kampus. Sebenarnya mirip-mirip. Bedanya kalau yang di kampus  masih berusia awal dua puluhan, sedangkan yang di debat ini adalah para alumni dengan berbagai macam angkatan, dari yang sepuh sampai yang baru lulus. Saya jadi melihat realita tentang dongeng yang biasa diceritakan bahwa anak ITB itu adalah orang-orang hebat, sehingga punya pola pikir, ideologi, dan sikap yang berbeda-beda, sehingga tidak jarang menimbulkan konflik antar sesama alumni ITB.

Moral of the story nya tentu bukan panas atau tidak panasnya. Bukan tentang gontok-gontokannya. Saya pikir dalam suatu ajang bernama pemilihan umum, hal seperti ini wajar terjadi. Yang mau saya angkat adalah bagaimana kelima calon yang saya hormati ini, adalah senior-senior hebat yang telah melakukan banyak karya untuk negeri ini. Kelima calon yang membawa visi nya masing-masing yang bagi saya terlihat bagus semuanya, mencoba mengabdikan diri bagi kebaikan alumni ITB, Almamater dan Indonesia. Kelak, generasi kita tentu juga dituntut untuk memberi prestasi yang lebih besar dari apa yang alumni berikan selama ini.

Terlepas dari siapa yang terpilih menjadi Ketua Umum nantinya, kita semua tentu berharap yang terbaik bagi keberlangsungan IA ITB.

Terus dan selalu, untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s