Analisis Milan : Milan – Juventus. Kenapa Kalah?

Sebelum Pertandingan

Milan akan menghadapi partai semifinal Coppa Italia yang pertama ini dengan kehilangan 13 pemainnya. 12 orang cedera, serta 1 orang terlibat akumulasi kartu. 7 dari 13 orang ini adalah penghuni skuad inti besutan Allegri; Abbiati, Nesta, Cassano, Aquilani, Abate, Nocerino, Boateng. Sisanya adalah Merkel, Pato, Strasser, Yepes, Gattuso, dan Flamini.

Partai-partai terakhir yang dilewati Milan sebelum pertandingan ini menghasilkan skor yang cukup mengecewakan. Ditahan imbang Napoli, setelah sebelumnya dihajar oleh Lazio 2-0. Pertandingan yang dimainkan berjarak 3 hari sekali dengan memainkan pemain yang hampir sama tiap match nya, utamanya pada pemain yang mengisi lini tengah. Di sisi lain, jadwal yang ada pada periode sekarang bisa disebut neraka karena bertemu dengan tim-tim besar serta akan dimulai kembali 16 besar UEFA Champions League. Fokus tim sepertinya terpecah belah.

Dari yang sudah-sudah, terlihat bahwa Allegri selalu kesulitan bermain melawan tim besar. Apalagi apabila bertemu dengan pelatih yang cerdas secara taktik, entah kenapa Allegri seperti tidak berkutik. Lawan Inter-nya Ranieri dan Lazio-nya Reja contohnya. Milan mungkin menguasai pertandingan, tapi praktis sama sekali tidak punya peluang yang mengancam. Bola hanya berkutat berputar-putar di wilayah tengah karena wilayah ¼ lapangan telah dipressure ketat. Walhasil Milan keok melalui skema serangan balik memanfaatkan kelengahan pemain Milan yang terlalu enak memainkan bola.

Hal ini yang saya takutkan ketika melawan Juventus. Hadirnya Conte yang membawa 3-5-2 ketika melawan Milan membuat saya berpikir Conte bisa jadi orang dengan anti-taktik Allegri yang kesekian. Ditambah dengan sedikitnya cedera pemain yang dialami Juventus serta dihuni pemain-pemain yang mayoritas bertipe cepat, saya semakin tidak yakin Milan akan membawa hasil maksimal pada pertandingan ini.

Babak Pertama

Saya tidak mengikuti Juventus selama ini, jadi saya tidak mendalami bagaimana Juve biasa bermain. Tapi menempatkan 5 orang di tengah melawan 3 pemain tua yang kelelahan serta 1 pemain Milan yang masih awkward di posisi barunya saya pikir memang disengaja Conte untuk membuat barisan tengah Milan tertekan.

Pertandingan sebenarnya berjalan dengan lambat. Milan masih seperti biasanya, menguasai bola di tengah, tapi hampir tidak bisa mendorong bola lebih ke depan. Semua sepertinya sudah paham mematikan Milan, pressing ketat saja lini depannya dan buat Ibrahimovic tidak mendapat bola untuk melakukan satu dua atau terobosan kepada pemain yang masuk dari luar, alias jaga kedalaman. Semua pasti paham bahwa Milan kekurangan kreativitas apalagi dengan tumbangnya Cassano dan Aquilani.

Juventus memiliki beberapa peluang untuk melakukan serangan balik, namun selalu gagal. Dua hal yang menyebabkannya, satu adalah lini tengah Milan yang aerial ability nya memang baik (karena digawangi 2 gelandang bertahan murni Van Bommel dan Ambrosini) sehingga banyak bola stop di tengah ataupun telah diantisipasi oleh Mexes yang berperan sebagai stopper. Dua adalah terlalu lambatnya lini depan Juventus yang diisi Del Piero dan Borrielo.

Lambatnya mereka ketika memegang bola menyebabkan Milan dapat menata kembali pertahanannya ketika dua orang ini menahan bola. Del Piero suka mendribble bola di kakinya dan memang sudah melambat, sedangkan Borrielo (seperti kebiasannya juga di Milan dulu) suka mendelay bola dengan menahan bola di kakinya lewat body ballnya. Sepanjang babak, Borriello hampir useless. Yang berbahaya adalah 2 sayap Juventus, saya tidak ingat siapa saja, tapi beberapa kali mereka dapat menyusur sayap Milan sampai ujung dan berhasil melepas cross. Sepertinya mereka tahu betul bahwa Bonera bukan pemain istimewa dan Antonini suka lupa untuk bertahan. Milan sempat juga mendapat peluang serangan balik, tapi playmaker Seedorf terlalu lambat dalam menahan bola.

Babak Kedua

3 gol di pertandingan ini dihasilkan di babak kedua. Seperti yang ditulis di awal-awal, lini tengah Milan tidak memiliki cadangan, dan juga telah bermain terus-menerus dalam beberapa pertandingan. Dalam keadaan biasa mungkin tidak masalah, tapi ketika yang bermain di sana adalah pemain kelahiran 1976 dan 2 orang 1977, maka kasusnya berbeda. Kelelahan mulai kelihatan pada Seedorf yang sudah sering terlambat mundur ke belakang serta Ambrosini yang tidak mengcover seluruh area tengah sebagaimana mestinya biasanya dia berperan. Mungkin ini memang diincar oleh Conte dengan sering mengajak sprint para pemain tengah Milan yang tujuannya untuk membuat lelah. Hal ini tidak terlalu lama sebelum gol pertama Juve lahir.

Melalui serangan cepat, sebuah umpan terobosan lepas melewati tengah-tengah Antonini dan Silva. Di wilayah kiri Milan, kosong tidak ada orang. Kemana Antonini? Antonini ke tengah, menutupi area milik Mexes yang masih ada di wilayah gelandang (saya lupa kenapa dia ada disana, mungkin baru saja menyerang),  Van Bommel masih tertinggal di tengah lapangan, terlihat jogging ketika umpan terobosan dilepaskan, dan Ambrosini masih terlalu jauh dengan Silva. Silva jatuh dan shoot berhasil lepas ke Amelia. Amelia menepisnya dengan tidak baik, dan bola muntah secara liar ke daerah kosong…ya benar-benar kosong tanpa ada yang membayangi sama sekali Caceres mampu memasukkan bola ke gawang yang sudah kosong. Itu wilayah Antonini, tapi Antonini ke tengah menutup pos Mexes yang tertinggal. Yang seharusnya memback up untuk mengantisipasi Caceres adalah Ambrosini. Tapi Ambrosini sudah lelah sendiri.

Milan berusaha menyamakan kedudukan. Hanya ada 3 bek dengan sayap yang suka naik membuat Allegri bermain lebih melebar dari sebelumnya yang merapat yang terbukti gagal. Emanuelson yang nyaris tidak terlihat di babak pertama diganti oleh Robinho. Sharaawy dan Robinho melebar ke sisi lapangan, Ibra di tengah dan turun agak dalam bersiap menerima menerima satu-dua, 2 sayap diinstruksikan untuk lebih overlapping. Incarannya adalah menusuk dari sayap lewat kecepatan Robinho dan Sharaawy, atau crossing dua bek sayap. Yang standby menerima crossing di kotak adalah gelandang yang masuk (biasanya diperankan Nocerino) yaitu Ambrosini yang kemampuan headingnya bagus.

Gol balasan Milan tercipta melalui skema ini. Sayap Juve yang belum kembali sepenuhnya diincar oleh Ibra yang turun menjemput bola yang kemudian memberi terobosan ke Antonini, yang lari ke ujung lapangan kemudian melakukan cross. Yang menyambut cross adalah Ambrosini, yang menyundulnya untuk memberi umpan pada Sharaawy yang berlari dari luar. Dan gol balasan tercipta.

Milan mendapat momentum kemudian. Tapi Conte melakukan pergantian brilian, ia mengganti 2 striker lambatnya dengan 2 striker bertipe cepat, Quagliarella dan Vucinic. Pelan-pelan Juve menata kembali permainannya. Ambrosini yang sudah kelewat lelah beberapa kali melakukan error sehingga kehilangan bola dan menyebabkan serangan balik Juve berbahaya. Lini tengah Milan semakin mudah ditembus, ditambah pinpass Pirlo yang masih mematikan di pihak Juve. Anehnya adalah Milan tidak mengganti Ambrosini, malah Van Bommel yang masih terlihat masih relatif lebih baik dibanding Ambro.

2 striker cepat Juve bermain melebar, memaksa 2 bek tengah Milan untuk mengantisipasi mereka dan membuat mereka turut melebar. Hal ini yang membuat lahirnya gol kedua Juve. Crossing dilepaskan dari kanan Milan ke tengah, yang stand by di tengah adalah Ambrosini, bukan duet bek tengah yang sudah agak minggir karena striker Juve tadi. Celakanya Ambrosini melakukan kesalahan fatal dengan melakukan bad clearance. Menyundul bola ke wilayah kosong depan kotak penalti yang disambar Caceres, yang lagi-lagi tanpa ada yang menekan di sana. Yang harusnya ada di sana adalah Seedorf, tapi sepertinya kelelahan membuat dia menjadi malas menempel Caceres, atau mungkin bahkan tidak menyadari kehadiran Caceres.

Kesimpulan

Harus diakui bahwa Allegri kalah taktik dibanding Conte. Badai cedera memang berpengaruh besar, tapi toh Juve menurunkan tim keduanya. Kelelahan harusnya sudah diantisipasi dari awal. Tidak mungkin masih menaruh harapan besar pada orang kelahiran 1977 yang baru sembuh dari cedera yang kemudian langsung bermain berturut-turut. Aneh rasanya memaksakan 4 orang gelandang sisa untuk bermain dari awal tanpa menyiapkan cadangan lini tengah. Tentu saya pikir akan lebih baik bila pemain primavera ada yang masuk bench atau bahkan bermain daripada memaksakan senior yang bermain terus-menerus sebelumnya. Atau mungkin mengganti taktik? Well, kita tidak tahu apa pikiran Allegri, yang jelas harus ada yang diubah karena Milan tidak seharusnya terus mengutuk badai cedera sebagai alasan penampilan buruknya selama ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s