Berdiri di Tengah Kegalauan Umat

Akhir-akhir ini saya amati media sangat hiruk pikuk.

Berita di sana, terkesan menyudutkan.

Berita disini, terkesan memberi stigma.

Berita di situ, terlihat bermuatan negatif.

Tidak beberapa waktu ini saja sebenarnya saya perhatikan berita-berita seperti ini menguasai headline media. Pada momen-momen tertentu pemberitaan bertema sama muncul beberapa saat, kemudian tenggelam kembali, lalu kemudian entah kenapa muncul kembali.

Dalam tempo singkat beberapa bulan ini, momen itu muncul kembali.

Pertama, cerita di sebuah pulau di ujung timur pulau Jawa yang berhubungan langsung dengan kota Surabaya, pulau Madura. Tiba-tiba dunia heboh dengan isu yang menyatakan sebuah golongan bernama Syiah didiskriminasi, dilanggar hak asasinya oleh sebagian golongan lain mayoritas hanya karena keyakinannya yang ‘berbeda’.

Pertanyaan pertama, berbeda? Para pakar dan ahli di kedua belah pihak bisa berdebat panjang untuk membahas yang dikatakan ‘berbeda’ ini. Pertanyaan kedua, benarkah bentrok yang terjadi karena isu sektarian? Atau itu hanya sekedar bumbu pemanas agar berita menghangat dan menjadi sensitif di mata rakyat Indonesia. Sehingga tokoh-tokoh panutan dan latar belakangnya dicap ‘tercela’.

Kedua, seorang raja dangdut membuat heboh jagat negeri. Ceramah tertutupnya yang memberi ajakan terhadap suatu komunitas dianggap sebagai bentuk kampanye SARA terhadap salah satu pasangan calon pemilihan Gubernur DKI. Sesuatu yang tertutup entah sengaja atau tidak dibawa ke ranah publik kemudian dijadikan bahan kritik. Pars Pro Toto pun berlaku. Sang raja bersalah? Saya kira tidak. Hal wajar dalam suatu komunitas tertutup melakukan hal tersebut. Komunitas dengan basis ide lain pun mungkin melakukan hal serupa. Sentimen muncul karena tokoh yang berkaitan erat dengan pemberitaan bukan sosok yang disenangi.

Ketiga, tiba-tiba dalam suatu media televisi muncul pemberitaan tentang masjid sekolah yang ditengarai sebagai sumber awal munculnya ajaran teroris. Ajaran ini muncul (katanya) melalui kegiatan ekstrakurikuler yang tempat kegiatannya banyak di masjid. Pemberitaan bombastis, sampai-sampai yang biasanya diam jadi ikut bersuara. Massa berserak muncul ke permukaan dan tampil ke depan. Di satu sisi lain, terlihat lagi-lagi ada yang disudutkan.

Keempat, segelintir orang membuat ‘hasil karya’ amatir dan kemudian di unggah pada sebuah situs video terbesar di dunia. Kemudian banyak orang melihat dan memberitakan. Lalu hebohlah video ini. Di berbagai penjuru dunia orang-orang bergejolak, dan gejolak berubah menjadi energi kinetik, dari yang biasa sampai yang hasilnya merusak. Beberapa orang penting bersuara, dan atas nama patung Liberty, menyuarakan prinsipnya. Dan berangkat dari situ, jadi ada bahan baru untuk upaya mendiskreditkan, membenarkan apa yang terdapat pada ‘hasil karya’ amatir tersebut.

Saya yakin semua orang paham peristiwa apa yang saya sebutkan baik yang 1, 2, 3, atau 4. Lihat apa yang sama dengan ekses dari hiruk-pikuk isu yang terlempar ini, dan didapatkan bahwa sebuah agama dan ajarannya selalu terlihat ‘bersalah’. Setiap isu kecil yang mampu membuat agama tersebut terlihat ‘tercela’ selalu saja menjadi kehebohan tersendiri, membuat polemik dari sisi orang luar, orang dalam, pengamat dan pembenci. Akhirnya pemeluk agama tersebut menjadi inferior dan terlihat malu dan terpojok atas kepercayaan dan ajarannya sendiri.

Mari sekarang katakan dengan jujur bahwa agama tersebut adalah Islam. Ada apa ini? Inikah Indonesia yang mayoritasnya umat Islam tapi ditunjukkan seakan-akan umat nya tidak ‘Indonesia’ sekali? Mengapa tiap ada masalah selalu mayoritas muslim terlihat salah? Mengapa cap tidak toleran, radikal, konvensional, tidak humanis, melanggar HAM, tidak Pancasila-is dan lain-lain selalu dikait-kaitkan dengan muslim?

Entahlah, saya jadi berkeyakinan muslim sengaja dijelek-jelekkan oleh suatu pihak saat ini. Atau memang ini terjadi karena sudah dijanjikan oleh Allah sebagaimana hadits ini ?

“Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam
keadaaan asing dan nanti akan kembali asing
sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-
orang yang asing (alghuroba’).” (hadits shahih
riwayat Muslim)

Wallahu alam.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s