Raja Jalanan, yang Berani Bayar Polisi 500 Ribu

Hari ini saya mendapati 1 lagi keanehan yang terjadi di jalan raya Indonesia. Sudah jadi rahasia umum bahwa kalau akhir pekan, kota Bandung jalanannya penuh dengan mobil-mobil baik itu dari dalam kota maupun luar kota. Dimana-mana bisa kita lihat dengan mudah macet semua jalanannya.
Salah satu yang sedang menikmati kemacetan itu adalah saya pada saat itu. Beruntunglah saya naik motor jadi bisa belok sana belok sini (walau kadang-kadang mungkin terlihat menyebalkan bagi pengendara mobil).

Di saat itulah, di waktu macet dan sedang panas-panasnya cuaca saat itu, muncul suara sirene polisi. Sesaat kemudian ada polisi lewat beserta sebuah mobil yang entah siapa penghuninya. Polisi ini memaksa membuka jalan bagi mobil di belakangnya (mobil yang di voorijder-kan bermerk camry dengan plat no bagus, saya tidak tahu siapa penghuninya, yang jelas bukan presiden dan wakil presiden seperti tersebut di UU kan?)

Akhirnya mungkin karena berisik, atau karena polisinya memaksa, atau mungkin juga karena takut berurusan macam-macam, kendaraan di depan polisi tersebut akhirnya satu per satu meminggirkan kendaraannya di tengah padatnya jalan.

Saya berpikir, bisa-bisanya macet seperti itu mobil camry tersebut tega memakai voorijder yang bisa disewa dengan mahar 500 ribu ( menurut pengakuan beberapa pihak). Suudzon saya,paling yang menaiki mobil itu kalau pejabat tidak lebih dari kepala dinas atau anggota DPRD kota, atau bahkan cuma pengusaha kaya yang bisa bayar mahar polisi tersebut.

Yang saya sedih adalah, beberapa hari sebelumnya saya menemukan kasus yang sama. Jalan padat merayap dan kemudian suara sirene muncul. Tapi kali itu sumber suara bukanlah sirene polisi, tapi sirene ambulance. Dan tahukah anda, bahwa tidak ada (sepenglihatan saya) kendaraan di depannya yang mau minggir. Jadilah ambulance itu kesusahan berjalan. Pun kalau ada yang minggir,itu hanya 1-2 oknum kendaraan saja.

Heran saya, bisa-bisanya kasus yang jauh lebih gawat warga jalanan Indonesia malah seakan cuek saja. Apa karena tidak adanya polisi di sana sehingga tidak mungkin ada yang menilang? Bukankah di UU jelas-jelas tertulis ambulance adalah prioritas kedua terpenting di jalan setelah pemadam kebakaran? Apa perilaku kita sepenuhnya dipengaruhi faktor takut berurusan dengan oknum dibanding urusan etika dan mematuhi hukum?ironis, penegak hukum kita bisa dibeli oleh siapa saja bahkan di level jalanan, dan disisi yang lain yang lebih berhak untuk mendapat akses malah diacuhkan. Kemana etika orang Indonesia yang katanya sangat berakhlak itu? Sudah hilangkah ditelan keganasan jalanan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s