Daging Sapi dan Pedagang Bakso

Saya tiap minggunya selalu menyempatkan diri setidaknya sekali untuk makan bakso di daerah dekat kosan saya. Dari tempo yang cukup lama, hingga sampai post ini dibuat, harga seporsinya tetap sama. Ukuran pentol baksonya pun tidak jauh berbeda.

Hal itu tidak saya pikirkan awalnya sampai saya membaca berita baru-baru ini bahwa harga daging sapi di pasaran konsisten di harga yang tinggi sejak isu daging sapi import beberapa waktu lalu. Di pasar dekat kediaman saya 1 kg nya bisa menyentuh 90-100 ribu per kg nya. Saya tidak tahu harga normalnya, tapi kalau dari berita disebutkan pada kisaran 60-70 rb per kg nya.

Pada titik ini saya baru sadar. Dengan harga daging setinggi itu kenapa harga makanan berbahan dasar sapi di daerah saya tidak mengalami kenaikan? Apa pedagang itu tidak merugi?

Saya cek kembali porsinya, hampir tidak ada yang berubah, rasa dan tekstur pun tidak. (Ketakutannya adalah penjual memakai daging lain atau campuran). Mungkin lidah saya saja yang tidak bisa mengira dengan benar.

Tapi anggaplah benar bahwa porsi tidak dikurangi dan bahan baku tetap daging sapi murni. Berarti mereka telah menanggung kerugian dalam perdagangannya. Profit mereka makin menipis. Karena menaikkan harga makanan itu pilihan yang sulit untuk pedagang kuliner (saya tahu banget masalah ini karena pernah jadi pengusaha kuliner). Jadilah mungkin pikiran sederhana mereka, ‘untung sedikit tak masalah asalkan tetap ada yang beli’. Menaikkan harga adalah opsi terakhir yang dipilih karena harapan mereka harga daging sapi akan kembali normal nantinya.

Inilah resiko dari berbisnis yang inti bisnisnya adalah bahan pokok. Riskan limbung terhadap gejolak harga bahan pokok yang memang sering naik turun entah karena kebijakan pemerintah atau karena permainan tengkulak/mafia/pengusaha kakap. Pemain usaha yang bermain di lini yang berhubungan erat dengan beras, kedelai, daging sapi, ayam, gula kalau mereka adalah pemain skala mikro siap-siap untuk sering melakukan penyesuaian diri. Kondisi yang tidak menentu, seperti sekarang ini -dimana pemerintah menetapkan swasembada daging sapi dengan menyetop import daging sapi tanpa didukung suplai mencukupi dari dalam negeri- membuat mungkin harga daging sapi seperti sekarang ini jadi permanen, dan tentu menyebabkan usaha terkait dengannya siap-siap berubah. Kalau tak berubah, hancurlah dia. Tentu dengan resiko jika berubah mereka akan ditinggalkan pelanggannya. Serba salah jadinya. Lebih jauh lagi yang paling rugi adalah anak Indonesia. Dengan tingginya harga daging sapi, komoditi ini jadi barang mewah dan tidak bisa dikonsumsi lagi oleh mereka. Hati-hati anak Indonesia ke depannya kurang gizi.

Ayo pengusaha, coba investasi di bidang peternakan sapi potong!

Salam🙂

One response to “Daging Sapi dan Pedagang Bakso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s