Ramadhan : Mengingat Kembali Isi Buku PPKn

Gambar

 

Pada suatu siang yang cerah di awal bulan Ramadhan, saya diharuskan naik angkot untuk pergi karena motor masih tertinggal di kosan teman. naiklah saya ke angkot berwarna biru muda, kemudian saya memilih duduk di sebelah supirnya.

Beberapa menit kemudian saya terkaget, ternyata si bapak supir lagi memegang segelas kopi di tangan kirinya. Lebih terkaget lagi setelah ia menaruh gelasnya, ia mengambil gorengan dari dashboard nya dan memakannya, tak lupa di tangan kanannya ada sebatang rokok.

saya sedikit heran, sepertinya si bapak ini santai sekali menunjukkan dia makan dan minum. kalau ternyata dia non-muslim dan tidak puasa ya wajar saja dia makan dan minum, ataupun kalau ternyata dia muslim dan dia tidak puasa ya silakan saja karena itu urusan dia dengan Allah. Yang saya sesalkan adalah perilakunya yang seakan cuek saja bahwa dia makan dan minum di tengah fasilitas publik seperti angkot. Seakan menjadi hal yang lumrah kalau dia makan dan minum di tengah keramaian. 

Saya jadi berpikir ulang, benarkah ini negara Indonesia yang punya umat muslim terbanyak di dunia? benarkah ini negeri yang ketika saya SD dulu sering diceritakan sebagai bangsa yang menganut tepo sliro tenggang rasa?

Perilaku yang saya temukan ini hanya secuplik dari semakin tak kondusifnya kondisi bermasyarakat kita ketika bulan Ramadhan. Di kota-kota besar, semakin banyak orang yang secara terbuka makan, minum, merokok dengan santainya. Restoran dan rumah makan pun tak perlu bersusah payah membeli kain putih panjang untuk menutupi lapaknya, biarkan saja terbuka apa adanya. 

Benar bahwa negeri ini bukanlah negeri syariah, benar pula bahwa negeri ini bukan hanya milik umat muslim. Tetapi bukankah umat muslim di negeri ini adalah mayoritas yang sangat besar? tidak bisakah kita menghormati bulan suci ini dengan mengkondusifkan suasananya sehingga menjadi syahdu dan khusyuk?

ini bukanlah tentang kebebasan atau hak azasi, tapi ini adalah tentang bagaiman kita sebagai warga negara menghormati warga negara lainnya. Ini cerita tentang dongeng lama ketika kita masih usia Sekolah Dasar dimana diceritakan bahwa masyarakat Indonesia punya karakter tepo sliro , gotong royong dan saling menghormati (yang digambarkan dengan baju adat dan baju simbol agam masing-masing di cover buku).

Ini bukanlah tentang umat Muslim yang eksklusif dan ingin dihormati. Seandainya anda tinggal di Bali dan sedang perayaan Nyepi, apa kemudian anda akan cuek menyalakan listrik sendirian dan menonton televisi dengan volume suara kencang? atau mungkin kita lupa kasus hari Waisak dimana umat Buddha menjadi tidak tenang sembahyang karena terlalu banyak wisatawan yang tak tahu diri dengan potret sana-sini dan bertingkah ribut di saat suasana mengharuskan syahdu?

Ayolah Indonesia, jangan jadi bangsa yang liberalnya keterlaluan! kita punya Pancasila sebagai pegangan. Buat Negara jadilah pengayom dan pemerintah yang benar dan tegas, untuk rakyat mari jadilah warga negara yang baik. Karena ini #IndonesiaKita bersama

 

sumber foto : robbihafzan.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s