Jangan Tunda Kebaikan

Menunda adalah suatu sifat yang seringkali mengendap dalam pikiran saya dikala berbuat. Ambil contoh dari beberapa hal yang sering saya alami : ketika akan bepergian yang perlu persiapan ( mudik misalnya), saya akan menunda packing sampai mepet waktu keberangkatan. Dalam mengerjakan tugas akademik juga sering demikian, biasanya saya kerjakan ketika H-1 atau bahkan beberapa jam sebelum.

Menunda juga saya lakukan beberap waktu yang lalu. Saya pada waktu itu berniat untuk memberi sumbangan pada korban  Gempa Aceh via suatu lembaga sejumlah X rupiah. Akan tetapi karena agenda pada hari itu cukup padat akhirnya saya tunda niatan itu dan berpikir “ntar ajalah” – padahal sebenarnya sederhana saja, saya tinggal masuk ATM dan selesai sudah.

Besok paginya saya pergi ke suatu pasar untuk belanja peralatan perang (baca : keperluan sahur). Seperti layaknya jual beli, sayapun keluarkan dompet dan membayar barang yang dibeli. Selesai akad, saya pun pergi.

Beberapa jam kemudian saya baru ingat bahwa dompet saya hilang dari peredaran. Setelah ditelusuri saya berkesimpulan bahwa dompet itu hilang di pasar, maka pergilah saya ke sana. Benar, dompet saya tertinggal di sana, tapi uang yang jadi isinya sudah raib,meski harus disyukuri karena kartu-kartunya lengkap semua. Suatu kebetulan yang sangat – di sisi ini saya percaya tangan Allah bermain – uang yang hilang dari dompet saya jumlahnya sama persis seperti nominal yang ingin saya sumbangkan untuk gempa Aceh.

Jujur, waktu itu saya sangat menyesal karena menunda sedekah itu. Buka  karena uang saya hilang – karena Insya Allah bisa dicari lagi-, tapi  fakta bahwa uang yang harusnya bisa dinikmati oleh korban gempa mlaj jadi dinikmati oleh orang yang entah siapa. Doaku, semoga saja orang yang pegang uang itu juga membutuhkannya, untuk sekolah anaknya, biaya melahirkan istrinya, atau sesederhana untuk makan esok hari. Semoga

Hal yang sama pernah menimpa kakak saya. Dia waktu itu berniat untuk beri sejumlah uang kepada adik asuh keluarga kami di Malang. Kemudian kasusnya sama, dia menunda hal tersebut karena merasa agenda padat. Besoknya, dalam ruwetnya kemacetan ibu kota, saya dikabari oleh dia bahwa mobilnya terlibat adu serempet dengan mobil orang. Kata dia, setelah sebuah perundingan yang alot, akhirnya kakak saya mengalah dengan memberi sejumlah uang kepada si mobil yang baret itu. Lagi-lagi bukan kebetulan belaka bahwa jumlah uang yang diberikan adalah sama persis dengan nominal uang yang sebenarnya diniatkan untuk diberikan pada adik asuh kami.

Cerita moralnya adalah, Allah punya mekanisme sendiri dalam menentukan takdir seseorang. Dan keputusan yang kita ambil adalah variabel dari rumusan takdir yang Allah berikan pada kita. Apa yang saya hadapi hanya persoalan sepele karena cuma berhubungan dengan uang. Bayangkan kalau seandainya skenario kuno ini yang terjadi – kita menunda shalat dan ternyata kemudian kita mati sebelum kita sempat melaksanakan shalat ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s