Merencanakan Uang dan Masa Depan

Uang.

Kata benda ini sudah menjadi topik utama dalam semua lini kehidupan manusia di era modern ini. Bagaimana tidak kalau ketika kita ingin mencari kerja, yang biasanya dilihat pertama adalah berapa uang (gaji) yang diterima. Ketika kita ingin mendaftar sekolah untuk kita atau anak-anak kita, yang pertama diperhatikan adalah uang pangkal dan uang bulanannya (cukup gak ya?). Bahkan kini tidak lagi buang air di tempat umum saja yang kita harus keluar uang, akan tetapi di beberapa tempat sholat pun kita keluar uang. Astaghfirullah.

Kata benda ini jugalah yang menjadi concern pikiran saya dalam berbulan-bulan ini. Bagaimana hidup kita nanti?cukupkah uang yang kita hasilkan untuk masa depan?seberapa besar nilai uang yang kita simpan di tahun depan?

Karena ada pikiran-pikiran seperti itulah saat ini marak orang-orang yang menawarkan jasa perencana keuangan, asuransi, sampai investasi yang berbagai macam bentuk.

Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran pemuda seusia saya saat ini, dimana ketika kita sudah berpenghasilan kemudian mulai memikirkan akan dikemanakan uang kita ini. Ada yang mendapatkannya dengan jumlah yang sangat besar dan kemudian hilang entah kemana, ada juga yang mendapat secukupnya saja.

Dalam otak saya sendiri selalu terngiang akan 4 hal tujuan jangka pendek keuangan saya, yaitu :
– rumah pribadi
– tambah modal usaha
– kendaraan roda empat alias mobil (disclaimer : saya tidak berniat tinggal di Jakarta atau Bandung)
– biaya nikah

Beberapa orang mungkin tidak memusingkan satu atau bahkan kesemua poin tersebut karena (mungkin) akan dipenuhi oleh orang tuanya. Namun buat saya sendiri, saya bersikeras untuk mencukupkan 4 hal tersebut secara mandiri. Ada perasaan yang berbeda ketika kita dapat mencukupkan kebutuhan kita dengan usaha dan perjuangan kita sendiri, dan itu perasaan menyenangkan yang sudah saya coba lakoni dari usia SMP.

Memikirkannya itu memusingkan, apalagi kalau target waktunya kita persingkat. Bahkan ketika kita sudah rencanakan semuanya, ada kemungkinan semua itu gagal. “Berapa yang harus disimpan dari pendapatan yang kemudian diputar kembali”
“berapa uang yang akan kembali dari modal usaha”
“berapa uang yang didapat dari ‘sekolahin’ aset kita”.

Mungkin saya yang terlalu ribet mikirnya, atau terlalu jauh memandangnya. Entah, yang jelas saat ini, mengatur dengan bijak uang yang kita punya sudah menjadi keharusan. Pola hidup yang terlalu konsumtif dan impulsif hanya akan mengantar kita ke penyesalan ketika usia beranjak dewasa. Kenaikan harga rumah begitu drastis, apa gak serem ngeliatnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s