Siapa Mau Jadi Wiraswasta

“Orang kalo udah denger profesi kita wiraswasta, pasti sedikit disepelekan”

Itu adalah ungkapan dari seorang sepupu saya pada saat kami bertemu dan mulai ngobrol. Perbincangan hangat di pagi hari setelah saya menjemputnya di stasiun Bandung pada subuh hari.

Sepupu saya ini berprofesi sebagai pengusaha jual beli mobil bekas di kota Semarang. Karena sayapun berlatar belakang pedagang, obrolan kamipun lebih banyak berkutat di tema wirausaha. Sampai kemudian kutipan di atas muncul.

Sudah jadi hal yang jamak di masyarakat umum (terutama di daerah) bahwa kerja kantoran, menjadi PNS atau masuk ke BUMN adalah suatu hal yang prestise. Kalau yang demikian terwujud, maka bisa dianggap orang tersebut sukses di mata lingkungannya.

Sebaliknya, apabila seseorang mengatakan bahwa ia berwiraswasta, maka ada pandangan sedikit merendahkan dibanding contoh pertama. Apalagi kalau terlihat wiraswastanya tidak bonafid menurut pandangan umum (tidak pakai dasi dan kemeja kalau kerja misalnya). Seakan status sosialnya lebih rendah. Banyak saya temukan kasus demikian.

Kembali k sepupu saya, dia sebenarnya pernah kerja kantoran selama 5 tahun. Pernah pula ditawari oleh sepupu saya yang lainnya untuk masuk PNS (namun dia tolak). Selama 5 tahun itu, dia bilang bahwa dia hampir tidak bisa menabung apapun.

Kemudian (meminjam istilah Kiyosaki) dia berpindah kuadran menjadi pengusaha. Dirintislan usaha jual beli mobil tersebut. Dan dia bilang cukup 1 tahun kerjakan ini dia bisa membeli rumah : suatu barang kebutuhan primer yang diidamkan para pekerja umur 20/30-an, yang harganya relatif mahal dibanding pendapatan rata-rata pekerja di mid umur nya.

Sedikit bocoran, sepupu saya ini mengatakan bahwa margin profit penjualan 1 mobil ini ada di rentang 5-30 juta, bergantung pada jenis mobil. Dan showroomnya biasanya berhasil menjual belasan sampai puluhan mobil. Jadi silakan dikira-kira sendiri berapa pendapatannya. Itu kalau kita melihat sukses dari salah satu parameter yaitu materi.

Ini adalah contoh saja. Banyak hal-hal seperti kasus diatas terjadi, dan tentu tidak mudah menjadi orang yang melawan arus. Hikmahnya : Seringkali lingkungan membentuk opini dan tindakan kita. Kita memutuskan sesuatu berdasar persepsi orang lain atau lingkungan sosial. Dalam hal ini, mungkin itu sebabnya sulit sekali muncul pengusaha-pengusaha dari kaum terdidik. Itu karena mereka dipaksa untuk terlihat sukses secara artifisial, pakai dasi dan jas, datang ke gedung perkantoran tiap hari, dapat gaji tetap. Untunglah masyarakat yang sudah melek informasi (biasanya di Jakarta) mulai mengubah persepsinya. Sehingga disana kaum muda tidak perlu merasa malu membangun bisnisnya dari awal.

Masa depan adalah milik kita sendiri, bukan milik saudara jauh, teman, apalagi tetangga rumah kita. Diawal mungkin cibiran, namun saya percaya diakhir akan menjadi sanjungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s