Buta Huruf, Ironi yang Masih Ada

 

Namanya Ira. Seorang asisten rumah tangga di rumah salah satu sanak keluarga saya. Salah satu dari sekian banyak wanita dari pelosok desa di Jawa Timur yang mencoba meningkatkan hidupnya.

Saya terkejut ketika diberitahukan bahwa Mbak Ira –begitu biasa dia dipanggil –  ini adalah seorang yang masih buta huruf ketika awal bekerja.  Cerita ini terkuak ketika dia tidak mampu memahami secarik kertas bertuliskan daftar belanjaan yang harus dibeli. Pun dengan tulisan-tulisan label yang ada pada kotak-kotak untuk menyimpan bahan-bahan dapur.

Pepatah kuno mengatakan : tak ada kata terlambat untuk belajar. Pepatah lain juga memberi tahu : asal ada kemauan pasti ada jalan. Dengan semangat yang kuat, dia pun belajar sedikit demi sedikit ilmu membaca, dibimbing sendiri oleh majikannya – tante saya. Tak cukup hanya membaca, pengetahuan dasar seperti kandungan gizi dan ilmu boga lainnya kemudian cukup dikuasainya.

Kisah yang mirip muncul dari sebuah SD di pelosok Malang. Sebagai relawan dari Kelas Inspirasi Jawa Timur, ibu saya bercerita bahwa masih cukup banyak siswa peserta didik SD yang masih sangat terbata dalam membaca. Tentu hal ini masih cukup ringan dibanding kisah pertama, namun tetap terasa miris jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya di tempat lain yang semakin kompetitif.

Dua cerita di atas adalah kisah menarik yang patut direnungkan.

Hari ini, dimana statistik mengatakan bahwa jumlah telepon genggam yang dipakai orang Indonesia telah melebihi jumlah penduduk Indonesia itu sendiri; dimana jumlah orang di Indonesia yang memiliki harta di atas 1 juta dolar AS naik sebanyak puluh ribuan orang; dimana APBN negara ini yang  sebesar 1800 triliun Rupiah entah dialokasikan kemana saja dan berapa yang telah dikorupsi ; dimana program wajib belajar 9 tahun katanya berjalan sukses,

Di belahan lain dari hingar bingar Jakarta,masih di pulau Jawa tanpa perlu jauh-jauh pergi ke ujung timur Nusa Tenggara atau bahkan Papua, kita masih menemukan manusia-manusia yang buta huruf.

Orang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah jendela dunia, bahwa pendidikan adalah pintu gerbang peningkatan taraf hidup. Sayangnya, kunci untuk membuka pintu dan jendelanya tidak mampu diberikan. Janji kemerdekaan (saya mengutip istilah ini dari Anies Baswedan) untuk mencerdaskan kehidupan bangsa belum mampu dilaksanakan negara kepada segenap rakyatnya.

Tanggung jawab menunaikan janji kemerdekaan ini adalah kewajiban segenap warga negara. Yang paling mudah adalah memilih pemimpin daerah dan negara yang amanah dan kompeten pada pemilihan umum. Bila kemudian negara buntu, warga negara dapat berbuat langsung pada problem yang ada tanpa perlu menunggu perangkat negara bertindak. Karena itulah orang mengatakan lebih baik menyalakan lilin dibanding mengutuk kegelapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s