Balada Senayan (Bolehkah Kita Masuk?)

9 April 2014 tinggal beberapa hari lagi. Masa kampanye nasional pun telah resmi dimulai. Mereka yang (mengutip dari perkataan ibu saya) ingin mencari pekerjaan dengan mencari kursi di parlemen berlomba-lomba memasang baligho, menyebar flyer dan masuk-masuk ke rumah warga untuk mempengaruhi masyarakat agar memilih dirinya. Hirup pikuk pemilu mulai muncul di segala lini, televisi, koran, warung-warung kopi, bahkan timeline  twitter dan facebook.

Berhubung itu artinya 1 bulan lagi kita akan mengetahui siapa wakil baru kita di gedung parlemen, saya iseng-iseng ingin mencoba menceritakan apa yang saya rasakan saat 2 tahun lalu (sampai saat ini, walaupun sudah jarang)sering berinteraksi dengan gedung kura-kura Senayan (Parlemen pusat) dan segala isinya saat masih ngurusin KM ITB. Bukan tentang politik tentunya isi cerita ini, karena kita sudah dijejali terlalu banyak berita di luar sana. Ini hanya tulisan ringan tentang hal yang tidak penting dari Senayan yang saya ketahui.

Cerita pertama akan saya mulai dengan kisah tentang pintu gerbangnya. Pertama kali saya punya tugas untuk datang ke Senayan adalah saat menghadiri undangan diskusi dengan topik Minerba oleh suatu ormas dan fraksi di DPR. Dasar karena baru pertama kali mencoba untuk masuk, dan rekan-rekan yang ada dalam mobil rombongan juga sepertinya baru pertama kali, kami pun mencoba masuk ke gedung DPR dari pintu gerbang depan. Iya benar, pintu yang sering jadi sasaran massa saat berdemonstrasi dan sering masuk liputan di televisi. Saat mau masuk, kami pun distop oleh petugas keamanan.

“Maaf mas, pintu ini hanya untuk pejabat. Silakan lewat pintu samping kalau ada perlu masuk”, kata sang petugas. Akhirnya setelah sedikit kesulitan mencari, kami menemukan pintu samping yang cukup kecil.

Pelajaran pertama, kalau anda orang biasa, masuklah lewat pintu samping.

Masih tentang pintu gerbang, kali ini saya datang sendirian. Sudah tahu juga bahwa saya harus lewat samping. Namun saat itu saya benar-benar lupa untuk memakai pakaian yang cukup formal. Saya memakai pakaian sebagaimana layaknya mahasiswa pada umumnya, kaos, celana jeans dan sepatu kets. Saat mau masuk gerbang, seperti biasa petugas menyetop orang yang masuk tanpa identitas dan menanyakan tujuan.

Saya katakan bahwa saya ingin bertemu dengan anggota X dari fraksi Y dan komisi Z. Biasanya kalau saya telah mamakai pakaian (cukup) formal, saya langsung dilepaskan untuk masuk. Namun mungkin karena pakaian saya yang terlihat terlalu tidak pantas, atau mungkin diri saya sendiri yang tidak pantas (lho?) untuk masuk area kompleks parlemen itu, saya dilarang untuk masuk dan dianggap bahwa tujuan saya masuk adalah fiktif. Sampai akhirnya saya menghubungi X ini sendiri dan memberitahukannya  bahwa saya dicegat, baru kemudian akhirnya sang petugas melepaskan saya masuk.

Masih tentang pakaian, di hari lain kembali saya iseng memakai baju yang rakyat kebanyakan banget lah. Saya masuk area tidak mengendarai mobil (pinjaman), namun berjalan kaki. Waktu itupun sebenarnya saya tidak sedang punya agenda apapun di dalam sana. Murni iseng untuk melakukan tes apakah kalau kita tidak punya janji dengan siapapun di dalam sana dan berpenampilan tidak formal bisa masuk atau tidak. Dan ternyata saya benar tidak boleh masuk. Alasan saya untuk memberikan aspirasi pada anggota, tidak diindahkan. Mungkin dianggapnya saya akan bakar ban di dalam kompleks. Hehe…

Pelajaran kedua, pakailah pakaian yang bagus kalau ingin tidak dicurigai.

Di sisi lain, ketika saya berkesempatan datang ke gedung Mahkamah Konstitusi, saya melihat puluhan orang yang memadati gedung ini. Tidak cukup hanya itu, di dalam gedung (di aulanya) juga banyak orang yang duduk-duduk santai ataupun tiduran dengan pakaian yang wong cilik banget. Ramai sekali. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang sedang mencari keadilan konstitusi di negeri ini dengan berperkara di MK. Di gedung ini tidak ada penjagaan yang membuat risih, ataupun proteksi berlebihan seakan orang yang akan masuk adalah nyamuk, walaupun tentu masih ada petugas yang berjaga.

Coba dibandingkan dua keadaan di atas, ada yang bisa menyimpulkan? Hehe (lagi)…

Karena ini hanya berbasis pengalaman saya sendiri, mungkin saja hal yang sama tidak terjadi di lain waktu atau lain personal. Saya tidak tahu. Semoga saja memang gedung DPR Senayan tidak seangkuh itu. Kalau tidak pada wakil rakyat, dimana lagi kita bisa mengadu?

 

4 responses to “Balada Senayan (Bolehkah Kita Masuk?)

  1. jadi sebenarnya kapan kita bisa memberikan aspirasi kepada wakil kita disana ? walaupun ayas sendiri sebenarnya gatahu wakil daerah ayas di DPR siapa, hehehe

  2. @faiz : bisa dicek di dpr.go.id anggota dpr dari dapil malang kermain.salah satune ya luthfi hasan ishaq

  3. lewat pintu samping dan pakai baju formal, bisa jadi itu sebabnya kita melihat fenomena sekarang; rakyat biasa dikesampingkan kepentingannya dan dijadikan formalitas keberadaannya hehe

    pemikiran liar saya bilang bahwa buat memperbaikinya bisa dimulai dengan merubah sistem protokoler itu; pintu utama dijadikan tempat keluar-masuk orang-orang biasa dan dresscode pengunjung cukup “bebas rapi bersepatu”. siapa tahu perubahan sederhana bisa berefek domino untuk perbaikan yg lebih besar

    maturnuwun mas Tito sudah menulis ini🙂

  4. Ping-balik: Balada Senayan-2 (Bukan Angel Lelga) | Laksito Hedi·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s