Tilang dan Prosedurnya?

Beberapa waktu yang lalu pada saat perjalanan saya dari Jawa Tengah menuju ke Jawa Timur, saya kena semprit oleh Polisi Lalu Lintas karena melakukan pelanggaran lalu lintas. Kejadiannya dimulai saat saya menyalip kendaraan di depan pada saat marka jalan sedang garis panjang (bukan garis putus-putus) yang artinya kendaraan sebenarnya tidak boleh saling mendahului. Yaah, walaupun kalau mau beralibi sedikit, sebenarnya saya menyalip saat marka garis putus-putus tinggal sekitar 5 meter lagi dan kendaraan dari arah sebaliknya sedang kosong. Namun jangan salah sangka, saya warga Negara sadar hukum dan mengakui bahwa saya memang salah dan melanggar, no excuse.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dari penilangan saya ini. Utamanya prosedur penilangan. Hal pertama yang saya dengar dari Polantas yang menilang saya adalah “Sidang tanggal sekian ya mas”. Saya pikir ‘’bagus nih’ karena setahu saya prosedurnya memang demikian saat menilang, memberitahukan jadwal sidang selesai menilang. Saya pun menyampaikan (yang saya tahu bahwa sang Polantas juga pasti paham) bahwa saya warga luar kota dan pasti tidak bisa mengikuti sidang. Saya pun menanyakan perihal titip sidang. Terkait perkara titip sidang ini sebenarnya agak membingungkan ya buat orang awam. Komisioner Kompolnas, Edi Hasibuan dalam pernyataanya di situs berita detik.com pernah menyatakan bahwa dibolehkan menitipkan denda sidang ke Polantas yang bertugas, “Tapi perlu diperhatikan baik-baik, setelah memberi uang titip sidang, pengendara harus mendapat selip tilang. Itu yang penting, kalau tidak dapat namanya suap” ujarnya di situs tersebut. Namun menurut Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012 Pasal 28,39,30,31 mengatakan yang pada intinya adalah titip uang denda sidang dapat dilakukan dengan menyetorkan sejumlah denda terbesar di bank yang ditunjuk, kemudian apabila nominal denda telah ditetapkan di dalam sidang dan lebih kecil daripada uang setoran kita di Bank, Kejaksaan akan mengembalikan uang tersebut ke kita.

Jadi? Pada akhirnya sang Polantas menyebut nominal Seratus Ribu Rupiah sebagai denda dan uang tersebut dititipkan ke dirinya. Okelah saya pikir. Namun saya merasa agak aneh saat Polantas tersebut menuliskan pelanggaran saya di secarik kertas putih alih-alih di slip tilang yang berwarna merah. Berdasar pengalaman saya dan hasil membaca beberapa berita dan peraturan perundangan tentang Lalu Lintas, yang saya pahami jika kita melanggar, bentuk pelanggaran dan identitas kita dituliskan di slip merah dan diminta membubuhkan tanda tangan disana. Titip atau pun ikut sidang, sama saja, tetap di slip merah. Saya menanyakan hal tersebut kepada Polantas itu, dan ia menjelaskan kalau titip sidang tidak diberikan slip merah. Betul memang kalau titip sidang tidak diberikan slip merah, tapi pelanggarannya tetap ditulis di kertas slipnya. Namun yang saya lihat slip itu tidak ditulis sama sekali dan saya pun tanda tangan bukan di kertas itu. Saya yang tidak puas dengan jawabannya kembali menanyakan mengapa tidak ditulis di slip merah. Ditanya berulang-ulang agaknya membuat ia (asumsi saya) sedikit jengkel hingga akhirnya ia mengatakan “yaudah sidang aja deh mas” sambil merebut STNK saya. Saya jadi agak bingung dengan hal ini. Saya melanggar, YA; konsekuensinya saya membayar denda, YA; lalu bukankah saya berhak memastikan uang denda saya masuk sesuai prosedur yang benar.

Tentu saya tidak menuduh Polantas tersebut menerima suap, tidak. Kalau saya menulis itu saya bisa saja di kenai pasal pencemaran nama baik atau hate speech (sesuatu yang agak aneh di alam demokrasi saat ini). Saya hanya ingin bertanya, mengapa pelanggaran saya tidak ditulis di slip merah namun malah di lembar putih kecil? (NB : memang ada lembar putih di slip tilang yang diperuntukkan sebagai berkas Kejaksaan. Tapi saya pikir kertas putih yang saya lihat bukan yang diperuntukkan untuk Kejaksaan. Lagipula slip merahnya harus tetap diisi karena tiap slip merah punya nomor unik yang ada pertanggungjawabannya).

Jadi, saya bertanya kembali, mengapa pelanggaran saya tidak ditulis di slip merah namun di kertas lain? Saya rela memberikan uang denda sesuai pelanggaran saya ke Negara. Tapi saya sama sekali tidak rela bila uang saya masuk ke kantung yang tidak seharusnya.

One response to “Tilang dan Prosedurnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s