Alumni Insan Cendekia Ngapain Aja?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul saat orang berbicara tentang Insan Cendekia. Dari tentang bangunan sekolahnya, cara mengajar, ekstrakulikuler, kadar keislamannya hingga alumninya. Dari yang memang kepo sedalam-dalamnya sampai cuma ingin tahu sekedarnya.

Hal menarik menimpa rekan saya saat membantu menjualkan buku Dormistory di salah satu lokasi seleksi Insan Cendekia di bilangan Sidoarjo. Saat itu rekan saya dihampiri banyak orang yang tertarik dan mulai bertanya-tanya tentang Insan Cendekia secara lebih gamblang dan personal. Dari sekian banyak yang bertanya-tanya, ada salah  seorang yang melemparkan pertanyaan-pertanyaan ke rekan saya yang saya pikir harus diberi penjelasan lebih dalam.

Berikut saya sarikan bentuk pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan seseorang tersebut (ada perubahan redaksi pertanyaan agar lebih formal dan demi menghindari kesalahpahaman) kepada rekan saya dan dialog imajiner yang saya buat kalau saya yang menjawab pertanyaan itu :

  • Mbak/mas alumni Insan Cendekia Serpong ya?

Iya benar

  • Ini buku tentang apa?

Buku ini tentang cerita kehidupan kita saat sekolah di Insan Cendekia Serpong bu dan hikmah-hikmah yang bisa diambil dari kultur akademik disana bu.

  • Oh, jadi cerita tentang masa lalu ya?harusnya cerita tentang sekarang, alumni sudah berbuat apa dan bekerja di bidang apa.

Betul tentangmasa lalu di IC, supaya yang belum kenal Insan Cendekia bisa mengetahui dari sudut pandang siswanya bagaimana Insan Cendekia bekerja membangun tradisi pendidikannya.

Untuk masalah  cerita tentang alumni saat ini, tunggu saja bu. Akan ada masanya buku tersebut terbit. Ditunggu ya Bu🙂

  • Mbak/mas nya sekarang aktivitasnya apa?

Saya sedang merintis usaha berbasis social Bu, doakan semoga semakin memberi dampak bagi masyarakat

  • Alumni itu seharusnya kasih kontribusi lebih ke Kemenag karena sudah dibiayai sekolah oleh Kemenag

Buku ini salah satu kontribusi kami untuk pendidikan Islam agar masyarakat lebih mengenal ada lho pendidikan Islam yang mumpuni di Indonesia yaitu Insan Cendekia.

  • Tapi keuntungan dari penjualan buku ini dikemanakan?pasti masuknya ke komunitas lagi kan?lalu benefit untuk Kemenag nya apa? Ada Banyak pendidikan di bawah Kemenag yang masih butuh bantuan kalian. Ambil contoh yang di Jatim, jago Fisika, terus datang ke MAN Sidoarjo, bilang “Pak saya alumni IC, mau ngajarin adek-adek tentang Fisika. Gratis Pak. Saya ikhlas karena Depag telah membiayai saya”

Keuntungan buku akan kembali ke Insan Cendekia Serpong Bu. Bentuknya donasi ke sekolah dan sebagian dikelola Ikatan Alumni kami IAIC untuk membantu guru, karyawan dan alumni Insan Cendekia membiayai hal-hal mendesak terkait keuangan seperti musibah sakit keras.

  • Iya tapi itu kan atas nama lembaga alumni, bukan atas nama Kemenag. Ya menurut saya, bagusnya sih alumni kalau sudah lulus IC, merasa terpanggil karena udah dibayarin Kemenag, jadi mau berkontribusi untuk Kemenag, misal kalau Dokter buka klinik di Kantor Kemenag, mewakafkan diri seminggu 2 jam untuk memeriksa, atau kayak yang saya contohkan tadi, mengajukan diri mengajar ke sekolahnya Kemenag yang masih belum unggul. Bukankah kamu yang sekarang tidak terlepas dari sumbangsih pendidikan IC kamu yang dikelola Kemenag. Sekarang saya tanya kontribusimu untuk Kemenag apa?

Betul, kami sangat berterimakasih karena Kemenag berkenan mengurus Insan Cendekia hingga saat ini dan turut membantu pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di IC sekecil apapun itu.

Dari saya pribadi, di jaman saya, sayang sekali tidak mendapat beasiswa dari Kemenag dan harus membayar sendiri. Tapi saya paham bahwa tetap ada biaya-biaya sekolah yang dikeluarkan dari anggaran Kemenag. Saya berterimakasih untuk itu.

Apalagi yang mendapat beasiswa penuh seperti generasi junior-junior saya, pasti jauh lebih berterimakasih lagi karena secara utuh biaya pendidikan mereka di Insan Cendekia ditanggung oleh Negara dalam hal ini disalurkan oleh Kemenag.

Namun ada hal yang harus saya garis bawahi. Saya pikir berterimakasih kepada Kemenag bukan berarti kami harus melakukan kegiatan-kegiatan atas nama Kemenag atau hal-hal lain yang terkait secara langsung dengan Kemenag.

Insan Cendekia bukanlah sekolah Kedinasan. DImana seseorang sekolah disana kemudian diteruskan jadi ASN Kementerian/Lembaga masing-masing.

Menurut saya, tujuan adanya beasiswa Insan Cendekia secara umum kan untuk menyaring lebih banyak masyarakat Islam yang punya kualitas intelektual yang baik dengan kemampuan ekonomi yang belum cukup yang tersebar di penjuru negeri. Outputnya apa?

Ya menaikkan taraf hidup masyarakat karena dapat mengakses ke pendidikan yang lebih baik dan lebih tinggi. Ujungnya untuk masyarakat Indonesia secara umum, kalau warganya makin intelek dan moralnya baik (karena kualitas imtaq nya terasah oleh pendidikan Islam) bukankah mimpi tentang Indonesia yang makmur sejahtera damai sentosa tercapai?

  • Saya pikir alumni harus menunjukkan kalau mereka berkontribusi kepada Kemenag yang sudah membiayai. Misalkan jika seseorang disekolahkan oleh Kemenag program master dan doktoralnya tentu ia seyogyanya memilih mengabdikan diri di Kemenag walaupun mungkin ada banyak penawaran yang menarik datang dari luar negeri.

Menurut saya ada perbedaan mendasar antara kasus yang diangkat di pertanyaan dan dalam hal ini alumni IC. Wajar kalau ada pendidikan tinggi yang dibiayai kemudian diminta mengabdi di lembaganya. Bukankah itu tujuan dari beasiswanya?memperkuat kualitas staf internal lembaganya. Justru hal yang aneh apabila sudah disekolahkan hingga program doctoral oleh lembaga Negara kemudian setelah lulus tidak kembali mengabdi di lembaga yang membiayainya.

Namun saya pikir kasus alumni IC sedikit berbeda. Mereka dididik bukan untuk menjalani profesi yang serupa. Mereka dididik untuk berdakwah dan berkontribusi untuk Indonesia dan Islam secara luas. Tidak mempermasalahkan apa profesi mereka, lembaga apa yang menaungi mereka atau dengan cara apa mereka mencapainya. Yang jelas, kontribusi itu ada untuk Islam dan Indonesia.

Saya ambil contoh dari teman-teman saya.

Seorang alumni merintis usaha pembuatan game mobile yang mendidik anak, supaya generasi anak kita mendatang tidak dirusak oleh game yang tidak semestinya dan dapat belajar sambil bermain, bukankah itu adalah kontribusi untuk masyarakat Indonesia?

Seorang alumni merintis usaha sendiri, merekrut banyak warga yang kurang mampu sebanyak-banyaknya jadi pegawainya dengan upah yang sangat layak, bukankah itu kontribusi alumni IC mewujudkan kesejahteraan Indonesia dan masyarakat di dalamnya yang banyak Muslimnya?

Ada alumni jadi dokter di daerah, dimana tidak banyak tenaga kesehatan yang berpraktek disana, sehingga sekarang warga daerah itu bisa mengakses fasilitas kesehatan yang lebih baik lagi, selain itu ia juga membuat bakti social kesehatan secara gratis rutin tiap waktunya, apa itu bukan berkontribusi buat Indonesia?

Ada alumni, jadi abdi Negara dengan menjadi Aparatur SIpil Negara di Lembaga/Kementerian lain selain Kemenag, dan membawa pengaruh positif di lingkungan birokrat yang kumuh, korup dan lambat, apakah itu bukan kontribusi buat Indonesia?

Mereka semua berkontribusi demi kemajuan Islam dan Indonesia. Caranya berbeda-beda sesuai bidang profesi dan peminatan mereka. Namun tujuannya sama. Justru dengan diversifikasi kontribusi ini yang menyebabkan saya optimis tujuan Insan Cendekia berdiri dapat terwujud. Dan dengan wujud kontribusi seperti yang mereka lakukan, pada akhirnya toh walaupun secara khusus tidak mengangkat nama Kemenag namun tetap dapat mengharumkan nama Insan Cendekia dan Kemenag selaku lembaga yang menaungi Insan Cendekia.

Kami paham bahwa Kemenag ingin mencapai pemerataan pendidikan Islam dan juga menonjolkan kualitas pendidikan Islam dalam hal ini Insan Cendekia sebagai mukanya. Hal itulah yang hari ini dan kedepannya dilakukan oleh alumni. Harapannya, semakin harum amal alumni, maka semakin harum dan terangkat pula derajat pendidikan Islam dan Kemenag di mata masyarakat.

Kami menyadari Insan Cendekia adalah asset dan harapan umat Islam. Itulah yang kami jaga dan pelihara, nama baik almamater kami. Maka tentunya kami juga menyadari tanggung jawab moral dari tujuan Insan Cendekia tentang kontribusi bagi Negara. Dalam hal apapun, dalam bentuk apapun.

Disclaimer :  Tidak ada hate speech dan fitnah di tulisan ini terutama untuk Kementerian Agama secara kelembagaan. Saya menghormati setiap lembaga Negara apalagi ini adalah lembaga Negara yang membawahi sekolah yang saya cintai. Dialog diatas adalah nyata yang dialami rekan saya. Jawaban-jawaban diatas adalah versi jawaban saya apabila ditanya pertanyaan serupa seperti yang teman saya alami. Tulisan ini dimaksudkan sebagai hak jawab saya selaku bagian dari alumni Insan Cendekia yang secara sepihak oleh salah seorang oknum dianggap tidak berkontribusi untuk Negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s