Islam dan Indonesia

Setelah heboh-heboh Aksi Bela Islam jilid 2 pada 4 November kemarin, public Indonesia kembali akan dihebohkan dengan Aksi Bela Islam jilid 3 pada esok hari (tulisan ini dibuat pada 1 Desember 2016). Tidak menutup mata, Aksi ini memang memberi pro kontra yang besar di mata masyarakat. Banyak yang pro, dan banyak pula yang kontra hingga mencela, tidak  hanya mencela aksi demonstrasinya, tapi juga bahkan mencela prinsip dan keyakinan para pendemo.

Saya menelusuri beberapa pernyataan yang muncul di media social baik di lingkaran pertemanan saya maupun pada persepsi publik, dan menemukan banyak hal menarik. Kebanyakan bicara tentang kegunaan demonstrasi, kebanyakan yang lain mengangkat tentang paham Bhinneka Tunggal Ika yang ‘katanya’ tercederai.

Frasa bahwasanya Aksi Bela Islam ini mencederai keberagaman di Indonesia, mencederai prinsip Bhinneka Tunggal Ika menurut saya sangat berbahaya.  Itu seperti menuduh, yang ikut aksi beserta kontennya sedang bertindak melawan falsafah kebangsaan, tidak nasionalis. Lebih jauh lagi, tuduhan itu bermakna bahwa ada dikotomi besar antara Keislaman dan Keindonesiaan.

Bahwasanya, keberagaman adalah fakta di Indonesia, adalah benar. Bhineka adalah keniscayaan di Indonesia, benar.  Namun perlu diingat, bahwa setelah kata Bhineka ada kata Tunggal dan Ika.  Golnya adalah persatuan, Ika. Bhineka adalah fakta, Ika adalah tujuan.  Maka saat tujuan persatuan tidak tercapai karena ada yang mencederainya, artinya ada yang menyikut keberagamaan yang sudah tertata.

Maka jangan tuduh umat Islam tidak mempraktekkan Bhinneka.

Jangan tuduh umat Islam tidak Indonesianis.

Jangan pikir umat Islam yang akan berdemonstrasi tidak paham perbedaan dan tidak cinta tanah air.

Karena sesungguhnya, umat Islam telah mempraktekannya sejak jauh hari.

Umat Islam telah berperan besar dalam memperjuangkan tanah air Indonesia. Organisasi politik seperti Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah. Belum kita menyebut perjuangan di daerah. Di Padang, Aceh, Tanah Sunda, Surabaya, Yogyakarta. Para tokoh dan santri berperang melawan penjajah.

Umat Islam telah turut menjaga persatuan Indonesia dari perpecahan pada awal bangsa ini berdiri. Ki Bagus Hadikusumo sang Ketua Muhammadiyah, Wahid Hasyim ketua NU, Agus Salim, Kasman Singodimejo dan tokoh muslim lain dengan kebesaran hatinya merelakan pasal pertama Pancasila yang sejatinya berbunyi ‘ Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Dengan kerelaan ini, Indonesia Timur mau turut bergabung bersama Republik Indonesia.

Maka jangan ajari kami, umat Islam tentang Bhinneka dan Indonesia.

 

KRL Bekasi-Manggarai, 1 Desember 2016.

Laksito Hedi

Wakil Ketua Gerakan Nelayan Petani Indonesia DPC Malang

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s