Gawat, Anies-Sandi Menang?

Pilkada DKI putaran 2 telah usai, hiruk pikuk nasional yang terjadi selama kurang lebih 6 bulan ini akhirnya menemui titik finish. Suatu ajang yang harusnya hanya jadi hajatan warga DKI Jakarta, namun karena kehebohannya membuat masyarakat seluruh Indonesia menaruh perhatian juga.

Jalannya Pilkada sendiri berlangsung relatif aman dan lancar, dan memberikan hasil berupa kemenangan Anies-Sandi terhadap Basuk-Djarot berdasarkan quick count beberapa lembaga survei yang kredibel. Masing-masing calon pun telah memberikan pernyataannya, baik yang kalah dengan mengucapkan selamat, maupun yang menang yang esok harinya mendatangi kantor petahana untuk bertemu langsung dan meredakan tensi dan polarisasi yang terjadi di lapangan.

Tapi agaknya, polarisasi yang terbentuk di masing-masing pendukung masih belum sepenuhnya bisa hilang. Tuduhan dan sindiran silih berganti melintas utamanya di social media. Pendukung yang menang menyindir pendukung yang kalah, yang kalah juga balas menyinyir.

Beberapa teman bertanya kepada saya tentang beberapa topik sindir-menyindir yang muncul setelah hasil Pilkada ini mengemuka. Ada tentang FPI, tentang radikalisme yang diduga akan muncul, Anies seperti Trump, kasus agama dan rasial dll.

Demi memuaskan dahaga beberapa teman saya tersebut, saya menulis beberapa opini saya tentang topik itu, semata bertujuan untuk memberikan gambaran umum sehingga menghindari perdebatan yang –lebih banyak nyindirnya daripada substansinya-. Saya sendiri bukan warga Jakarta dan mengikuti proses Pilkada ini karena saya tahu beberapa teman saya adalah timses masing-masing calon. Dan sebelum melangkah lebih jauh, saya adalah muslim sehingga mungkin belum bisa mencuplik keresahan golongan minoritas (saya akan tulis di lain kesempatan tentang ‘politik bagi minoritas di wilayah mayoritas muslim’) dan saya termasuk yang tidak suka dengan cara Pak Basuki yang tangan besi (bukan berarti menjadi fans Pak Anies) jadi sangat mungkin bias subyektifitas sangat menonjol .

Kemenangan Politik Identitas?

Banyak orang mengklaim bahwa kemenangan 58% suara Anies-Sandi adalah kemenangan politik identitas, yang mengedepankan isu SARA. Saya pikir ujaran ini seakan menuduh bahwa para pemilih Anies-Sandi adalah mereka yang tidak mengedepankan rasionalitas dan memilih hanya karena factor agama dan ras, dan ini tidak baik. Saya tidak bisa mengeluarkan angka, tapi beberapa teman saya adalah pendukung Anies dan jelas mereka berasal dari kaum intelektual.

Tentu saja kita tidak menutup fakta bahwa ada secuplik masyarakat yang memilih berdasarkan latar belakang kesamaan agama. Namun kita tidak bisa melihat bahwa factor kesamaan agama menjadi satu-satunya factor tanpa melihat factor lainnya. Walaupun tentu saja, kita tidak bisa menyalahkan jika seseorang memilih berdasarkan keyakinan keagamaannya, dan itu tidak melanggar konstitusi.

Sentimen keagamaan awalnya hanya dimunculkan oleh golongan konservatif (sebagian menilai radikalis)Islam. Di tulisan ini disebutkan bahwa awalnya masyarakat tidak concern sama sekali terhadap isu keagamaan. Namun kemudian kebijakan Pak Basuki yang tidak pro warga miskin menyebabkan terbukanya peluang bagi ormas konservatif Islam untuk masuk dan melakukan propaganda.

Sentimen yang awalnya hanya menjadi isu golongan Islam konservatif kemudian membesar dan menurut saya menyentuh golongan Islam lainnya (muslim abangan walau sedikit, muslim moderat progresif dan muslim tradisional) saat Pak Basuki nyepet surat Al-Maidah. Setelah beberapa bulan, isu itu mereda. Namun blunder dilakukan timses Basuki-Djarot dengan memposting video yang mendiskreditkan umat Islam dengan menampilkan sosok yang beridentitas identik dengan Islam berdemonstrasi dan membawa spanduk ‘Ganyang Cina’. Hal ini menurut saya kembali memantik kemarahan tidak hanya golongan Islam konservatif, namun juga golongan Islam Moderat yang sebenarnya tidak mempermasalahkan agama Pak Basuki.

Disini, tim Pak Basuki yang mencoba menggoreng isu kebhinnekaan untuk melawan isu keislaman dari pendukung Anies, malah menimbulkan antipasti terhadap swing voters muslim dengan ideologi tengah. Bayangkan saja, anda dituduh menjadi bagian dari radikalisme dan rasialisme bila tidak memilih Basuki-Djarot.

Tapi kembali, saya pikir isu keagamaan bukan factor utama mayoritas warga memilih Anies. Benar faktor agama menentukan, namun bukan faktor tunggal tanpa melihat faktor lain yang juga utama. Karena kalau hanya bermodal isu agama, tidak perlu Anies yang maju menjadi kandidat. Anda bisa calonkan Rhoma Irama dan saya yakin 100% Pak Basuki yang malah akan memenangkan Pilkada DKI saat ini, bukan Rhoma. Kenapa? Karena jelas anda tidak mungkin memilih Gubernur hanya benar-benar karena faktor kesamaan agama tanpa melihat faktor lainnya (kompetensi, program, ideologi, cara berinteraksi dll).

Kalau kita merujuk kembali ke masa sebelum pendaftaran ke KPU, masa dimana bahkan nama Anies belum masuk bursa dan Sandiaga masih berkeliling dengan status Bakal Cagub, sudah terdapat hasil survei yang cukup menonjolkan mereka sebagai pesaing serius Basuki-Djarot (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/22/09434981/berharap.diusung.sandiaga.serahkan.hasil.survei.ini.ke.petinggi.parpol dan ini http://news.detik.com/berita/3298772/survei-poltracking-risma-sandiaga-anies-baswedan-lawan-berat-ahok) . Elektabilitas yang cukup menjanjikan bagi tokoh yang benar-benar baru (ingat Pak Jokowi melawan Pak Foke dulu?). Lalu mungkin orang akan bilang “ya iya, survei internal, survei pesanan”. Benar memang, pasti itu survei pesanan. Tapi lihatlah kredibilitas surveyor nya, Poltracking dengan hanta Yuda di belakangnya. Saya mempercayai kredibilitas Hanta Yuda, dan kalau anda sering mendengar dan melihat namanya di media, saya pikir anda bisa memahami kepercayaan saya.

Maka baiknya kita lihat bahasan lain selain agama. Jadi factor utamanya apa? Saya mendefinisikan kemiskinan warga dan karakter personal Pak Basuki sebagai factor utamanya.

Kemiskinan Warga

Faktor utamanya adalah kemiskinan (http://www.thejakartapost.com/news/2015/01/29/jakarta-sees-rising-poverty-widening-income-gap.html) dan ketimpangan pendapatan yang besar (http://www.huffingtonpost.ca/2017/02/23/indonesia-wealth-inequality_n_14957454.html) . Artikel di atas adalah realita. Pak Anies sangat memahami ini sehingga berungkali menekankan ‘keberpihakan’. Captive market Pak Anies adalah golongan menengah ke bawah, sehingga Pak Anies focus menggarap program-program dan isu yang menarik hati kalangan menengah ke bawah. Beberapa diantaranya : menolak penggusuran, menolak reklamasi, OK OCE, Rumah DP 0 Rupiah, KJP Plus. Sementara di sisi lain program-program Pak Basuki malah terkesan antithesis dari keinginan warga golongan penghasilan menengah ke bawah.

Pak Anies sepengamatan saya jarang sekali mengungkit isu-isu kesukaan kelas menengah. Isu itu diantaranya adalah taman-taman, trotoar, lingkungan kumuh, infrastruktur, transportasi umum (yang ini beberapa kali disinggung dengan paradigma yang berbeda jauh dengan Pak Basuki). Karenanya seringkali kita mendengar Pak Anies berkata “Kita membangun manusianya, tidak hanya benda mati”.

Sebaliknya, isu-isu tersebut adalah jualan utama Pak Basuki. Beliau sering menceritakan keberhasilan-keberhasilannya terkait isu tersebut. Tentang taman-taman dan trotoar yang cantik dan nyaman, tentang MRT, tentang kekumuhan yang hilang, kerapihan kota, infrastruktur seperti jalan layang koridor baru Transjakarta dll. Karenanya tidak heran banyak pendukung Pak Basuki berasal dari golongan ini, karena hasil kerja Pak Basuki selama ini memberikan dampak paling nyata untuk mereka. Eksesnya, kita melihat di social media banyak informasi-informasi yang cenderung pro Pak Basuki daripada Pak Anies karena yang banyak bermain di social media adalah golongan kelas menengah.

Keberpihakan program terhadap kelas menengah ke bawah menjadi justifikasi hasil akhir Pilkada DKI yang memenangkan Anies-Sandi. Hasil exit poll Indikator menunjukkan, sebesar 52 persen warga berpendapatan di bawah Rp2 juta memilih Anies. Sementara yang memilih Ahok cuma 35 persen. Sedangkan data exit poll Pollmark memberikan gambaran yang sama. Di segmen pemilih dengan pendapatan kurang dari 1 juta, Ahok hanya didukung 26,4%; pada segmen pendapatan 1-3 juta Ahok hanya dipilih oleh 35%.

Berikut adalah beberapa topik yang menurut saya menjadi factor pembeda antara Anies-Sandi dengan Basuki-Djarot yang membuat perbedaan hasil electoral.

Kasus Penggusuran

Pak Anies menangkap isu ini sebagai keresehan warga golongan menengah ke bawah. Pak Basuki selama menjabat Gubernur telah melakukan banyak sekali penggusuran (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/13/13405181/lbh.jakarta.ahok.mungkin.pecahkan.rekor.penggusuran.oleh.pemprov.dki) Dan penggusuran yang dilakukan Pak Basuki meninggalkan banyak problem.

Pak Basuki bisa saja mengklaim warga terdampak penggusuran diberi hidup yang lebih baik oleh Pemprov dengan program rusunnya. Namun fakta berbicara bahwa warga terdampak tidak puas, karena akar kehidupannya tercabut. Mereka kehilangan kehidupan social, pekerjaan dan penghasilan. Dan ini tidak bisa terselesaikan begitu saja. Bagi mereka yang bukan golongan menengah ke bawah, mudah saja bilang ‘kan mereka tinggal di tanah ilegal’, ‘sudah dikasih rusun dan subsidi masih saja mengeluh’ dll. Namun mengurus warga miskin tidak sesederhana itu. Ada perut yang harus tiap hari diisi, ada kehidupan social yang lama tumbuh. Dan agaknya, untuk dapat memahaminya, anda perlu menjadi warga miskin terlebih dulu.

Belum lagi terdapat beberapa wilayah penggusuran yang kemudian menjadi sengketa di pengadilan dan akhirnya dimenangkan warga yang tergusur seperti contohnya di Bukit Duri (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/06/07325911/warga.bukit.duri.menang.di.ptun.pemprov.dki.harus.ganti.rugi) . Teknis penggusuran pun kemudian menuai kecaman karena menurunkan personel TNI dan Polri dan tidak dilakukan secara simpatik dan manusiawi (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/16/04/25/o66rkh365-warga-tak-etis-tnipolri-dilibatkan-dalam-penggusuran) . Karenanya dalam ajang pemungutan suara, TPS Rusun yang menampung warga penggusuran memenangkan Anies telak terhadap Basuki (http://www.cnnindonesia.com/kursipanasdki1/20170419163940-516-208698/anies-sandi-menang-telak-di-tps-warga-gusuran-ahok/) .

Pak Anies memakai kata ‘penataan’ saat ditanya tentang penggusuran. Kata yang sama yang dipakai Pak Basuki namun dengan penerjemahan yang berbeda. Kalau anda masih mengingat Pilkada DKI pada tahun 2012, sebenarnya Pak Anies hanya mengulang apa yang pernah dijanjikan oleh pasangan Jokowi-Basuki saat mencalonkan diri dulu (http://www.kemendagri.go.id/news/2012/09/24/inilah-19-janji-jokowi-saat-kampanye) .

Ini beberapa poin janji Jokowi-Basuki saat Pilkada DKI 2012 kemarin yang terkait penggusuran sesuai link kemendagri di atas :

  • Tidak memberikan pentungan dan perlengkapan yang memungkinkan Polisi Pamong Praja memukul warga.
  • Membangun perkampungan yang sehat dan layak huni. Hunian di bantaran Sungai Ciliwung di desain menjadi kampung susun. Melakukan intervensi sosial untuk merevitalisasi pemukiman padat dan kumuh tanpa melakukan penggusuran. (Debat Calon Gubernur DKI Jakarta, 14 September 2012)
  • Melegalkan tanah-tanah yang sebelumnya tidak diakui oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau tanah ilegal. (Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, 15 September 2012)
  • Melakukan redesain total dengan membangun Jakarta dari kampung-kampung. (Menteng Dalam, 14 September 2012).

Janji tersebut serta karakter simpatik Jokowi saat menertibkan PKL di Solo (http://www.tribunnews.com/nasional/2014/06/10/ini-kisah-sukses-jokowi-di-solo) – yang mengajak makan malam warganya beberapa kali untuk membujuk pindah hingga akhirnya warga nya dengan senang hati pindah bahkan membuat festival – adalah yang membuat Jokowi dan Basuki dipilih saat Pilkada DKI 2012. Pertanyaan nya hari ini, apakah Basuki melaksanakan cara seperti yang dijanjikan mantan pasangannya tersebut saat melakukan penataan (baca : menggusur)?

Dan itulah yang dijanjikan Pak Anies. Ia menjanjikan cara dan teknis penataan seperti yang dijanjikan oleh Jokowi di 2012.

OK OCE

Ini program yang sangat booming dari pasangan Anies-Sandi karena selalu direpitisi dan mudah diucapkan. Singkatan dari One Kecamatan One Center for Entrepreneurship.

Inti programnya adalah mendekatkan akses bagi para masyarakat menengah ke bawah yang ingin atau sedang berwirausaha. Akses yang diberikan adalah permodalan, pendampingan bisnis(mentoring), bantuan perluasan pasar dll. Program yang sangat menarik bagi masyarakat menengah ke bawah. Para tukang sate, bakso, penjahit rumahan, konveksi, pengrajin,yang usahanya stagnan karena kurang modal dan pasar, atau bahkan ibu-ibu yang ingin usaha untuk menambah pendapatan keluarga. Mereka ini lah yang dibantu oleh program OK OCE. Kalau anda ada di posisi mereka, apa anda senang dengan program seperti ini? Pasti senang.Perekenomian keluarga dan warga menjadi bertumbuh.

Apa Pak Basuki tidak punya program serupa? Saya pikir ada, namun tidak serupa dan targetannya berbeda. Pak Basuki punya program permodalan UMKM 1 T per tahun (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160819221027-20-152589/rp1-triliun-dana-bantuan-umkm-dki-belum-maksimal-tersalurkan/) . Pak Basuki juga punya program pusat kewirausahaan yang disebut Jakarta Creative Hub.

Lalu apa yang membedakan?opini pribadi saya, program permodalan Pak Basuki tidak berjalan maksimal karena persyaratan UMKM nya yang terlalu sulit dicapai oleh usaha mikro masyarakat karena terlalu banyak usaha mikro yang tidak bankable. OK OCE sepengamatan saya memfasilitasi mereka yang tidak bankable.

Jakarta Creative Hub juga menurut saya berbeda dibanding OK OCE. Jakarta Creative Hub lebih cocok menyasar segmen kelas menengah yang berbisnis. OK OCE lebih menyasar ke kalangan menengah ke bawah karena mendekatkan diri ke kantung-kantung penduduk. https://news.detik.com/berita/d-3437789/sandiaga-ok-oce-lebih-lengkap-dari-jakarta-creative-hub) .

Namun bilapun ternyata programnya benar-benar serupa, saya bisa bilang Anies-Sandi lebih mampu mengkomunikasikannya kepada publik sehingga masyarakat menengah ke bawah lebih terpikat.

Rumah DP 0 Rupiah

Siapa yang tidak ingin memiliki rumah sendiri apalagi di daerah mahal seperti ibukota Jakarta? Hal ini yang coba dijanjikan oleh Pak Anies.

Program ini saya pikir memikat banyak orang, walaupun kemudian muncul pertanyaan, bagaimana caranya?

Saya pikir sepanjang saya mengikuti debat dan artikel berita, Anies-Sandi tidak pernah menceritakan rinci bagaimana teknis programnya ini. Hal itu yang kemudian jadi bahan cemoohan pihak lain yang menyebut program ini mengada-ada dan janji manis belaka.

Jawaban cukup teknis hanya pernah dijelaskan oleh timses Anies-Sandi di artikel berikut http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/01/14243521/melihat.skema.angsuran.rumah.dp.0.yang.akan.diterapkan.anies-sandi . Namun dari Anies-Sandi sendiri tidak pernah bercerita teknis.

Agaknya, walaupun komunikasi Anies-Sandi di program ini mengawang-awang, masyarakat cukup tertarik dengan realisasi program ini, bahkan bagi kelas menengah ke atas yang saat ini juga ikut-ikutan menagih program ini (padahal bukan jadi sasaran program)

Reklamasi

Anies-Sandi tidak pernah merinci bagaimana strategi mereka dengan menolak reklamasi. Yang tetangkap oleh saya hanya, ‘pokoknya menolak’. Sebaliknya Pak Basuki selalu memberikan pembelaan bahwa program reklamasi adalah program lama pemerintah pusat dan ia hanya meneruskan. Pak Basuki juga merepetisi ujaran bahwa 50% tanah hasil reklamasi adalah milik Pemprov DKI.

Hal sensitive tentang reklamasi adalah kesan yang ditimbulkan bahwa proyek ini hanya untuk memfasiltiasi para taipan developer properti raksasa Indonesia, dan mereka golongan kaya yang hanya bisa mengakses pulau itu. Hal ini ditunjang dengan isu tersingkirnya tempat tinggal dan pencaharian komunitas nelayan di pesisir utara Jakarta akibat reklamasi.

Pak Basuki yang sering dituding dekat dengan para konglomerat property dianggap tidak pro terhadap kalangan bawah, dan dalam kasus reklamasi dianggap hanya pihak golongan atas saja yang akan menikmatinya Isu ini yang diangkat Pak Anies dan beliau secara tegas menolak reklamasi.

Saya tidak tahu seberapa efektif persuasi Pak Basuki saat debat – yang meyakinkan bahwa reklamasi tidak menganggu nelayan – namun slogan tolak reklamasi agaknya lebih menarik hati para pemilih.

Karakter Personal Pak Basuki

Pada awal tulisan saya menyebut bahwa ada 2 faktor utama Anies unggul secara suara dibanding Basuki. Yang pertama focus program yang menyasar kelas menengah ke bawah, yang kedua adalah karakter personal Pak Basuki.

Karakter personal Pak Basuki di public adalah yang tegas, anti korupsi, marah-marah, keras, ceplas ceplos. Sebagian dinilai positif, sebagian negative. Marah-marahnya pernah membuat heboh karena memarahi seorang ibu yang bertanya tentang KJP. Ceplas ceplosnya membuat geger dengan kasus penistaan agama.

Saya meyakini, bahwa factor dwi minoritas Pak Basuki (agama Nasrani dan Etnis Tionghoa) tidak akan banyak diungkit apabila karakter personal Pak Basuki lebih menyenangkan, tenang dan tidak membuat gaduh. Saya juga meyakini bahwa ketidakdekatan Pak Basuki dengan warga kelas menengah ke bawah membuat ia tidak popular di mata warga (dan menjadi amunisi tambahan kubu yang kontra selain sentiment agama) dan berimbas pada hasil electoral.

 

Kemenangan Anies adalah Kemenangan Radikalisme?

Ada beberapa posting rekan saya yang menyamakan antara kemenengan Anies dengan kemenangan Trump. Saya mewajarkan persepsi seperti itu karena narasi yang dibangun oleh kubu Basuki-Djarot adalah, kubu Basuki-Djarot adalah kubu pendukung Kebhinekaan, dan kekalahan mereka identic dengan kemenangan radikalisme.

Sebenarnya darimana narasi ini muncul? Karena yang pertama adalah kesan hubungan yang erat antara Anies dan Ketua FPI Rizieq Syihab (suatu ormas yang dituding islam radikal). Yang kedua tentang politik identitas dan factor dwiminoritas Pak Basuki.

Saya meragukan klaim radikalisme ini. Pertama adalah karena Pak Anies sendiri tokoh Islam Moderat, bahkan dulu cenderung dituding liberal karena menjadi rector Univ. Paramadina. Pendidikannya juga dari Amerika, negara yang sangat dibenci oleh golongan islam konservatif.

Kedua, tidak pernah dalam kampanye nya Anies-Sandi mengeluarkan ujaran-ujaran rasialis dan radikal seperti Trump. Anies tidak jualan barang yang sama seperti Trump yang secara nyata memang menjual program yang radikal. Ia bahkan secara tegas mengatakan bahwa ia ingin menjadi pemimpin yang merangkul semua golongan, termasuk golongan islam konservatif seperti FPI (http://news.detik.com/berita/d-3468908/anies-kami-akan-jadi-pemimpin-semua-golongan) .

Namun harus diakui stigma ini sulit lepas bila Pak Anies terlihat selalu dekat dengan Rizieq Syihab selaku pentolan FPI (https://m.tempo.co/read/news/2017/01/02/348831774/anies-baswedan-temui-rizieq-shihab-netizen-heboh) . Karena beberapa golongan masyarakat merasa takut dengan cara dan ideology FPI walaupun Anies selalu mengatakan bahwa niatnya hanya untuk merangkul semua golongan. Niat merangkul semua golongan ini ditunjukkan Anies dengan bertemu golongan masyarakat lain yang non muslim seperti umat Kristen-Katolik (http://news.okezone.com/read/2017/04/03/338/1658000/pengurus-pusat-kristen-katolik-indonesia-raya-dukung-anies-sandi-pimpin-jakarta) dan masyarakat etnis Tionghoa (https://news.detik.com/berita/d-3449148/bertemu-komunitas-tionghoa-anies-diskusi-soal-keadilan) .

Maka pekerjaan besar untuk Pak Anies adalah untuk membuat FPI memilih ideology yang lebih ke tengah alih-alih ekstrim kanan. Dan dengan begini tudingan radikalis kepada Anies dapat segera tereduksi. Apalagi sebagian orang mengatakan harusnya FPI tidak perlu dirangkul karena radikal. Namun saya pikir, kita juga harus melihat fakta bahwa selama Aksi Bela Islam yang digawangi FPI beberapa kali, selalu berjalan damai, tidak terjadi kericuhan dan tetap menaati hukum. Artinya, FPI sebenarnya bisa dikendalikan. Dan FPI juga tidak baru berdiri 1 2 hari ini. Mereka telah berdiri lama dan terbukti Jakarta masih tetap Jakarta seperti sekarang. Bukan Jakarta syariat seperti berita hoax yang sering disebar.

Kemenangan Warga Kelas Bawah dan Konsep Kolaborasi

Saya menganggap kemenangan Anies-Sandi adalah kemenangan kehendak warga kelas menengah ke bawah yang selama ini (menurut saya) dianaktirikan dan tidak diperlakukan baik oleh Pak Basuki. Selain itu kemenangan Anies-Sandi  menunjukkan warga masih menaruh harap bahwa proses berembug, kolaborasi, musyawarah (dengan slogannya yang berbunyi ‘Maju Bersama’) dapat memajukan kota Jakarta alih-alih dengan tangan besi.

Sekarang kita tinggal menunggu realisasi program-program yang dicanangkan oleh Anies-Sandi, apakah berjalan dengan baik atau hanya retorika kampanye saja. Utamanya konsep tolak reklamasi, penggusuran dan Program Kepemilikan Rumah DP 0 Rupiah yang belum menjelaskan sampai ranah teknis. Tugas para pendukung dan warga Jakarta secara umum untuk mengawasi, agar pemerintahan Anies-Sandi nantinya benar=benar berjalan sesuai yang dijanjikan.

Sebelum tulisan ini ditutup, saya ingin menggaris bawahi agar kita tidak melupakan prestasi yang telah ditorehkan Pak Basuki selama menjabat. Beberapa hal positif selama kepemimpinannya, antara lain mempercantik kota (sungai yang tidak kotor, taman, trotoar yang bagus dan bersih dll), pembangunan infrastruktur yang massif (pembangunan jalan layang koridor Transjakarta, MRT, jalanan yang mulus), cepat tanggap kebersihan, pelayanan birokrasi yang efisien dan anti pungli, meniadakan korupsi di birokrasi, pelayanan dokter ke rumah-rumah dan banyak lagi yang mungkin tidak saya ketahui dan saya sebutkan.

Dan karenanya Anies-Sandi harus memberikan pembuktian kinerjanya dan menunjukkan bahwa konsep ‘maju bersama’ lebih baik dibanding konsep ‘tegas’ yang dicitrakan oleh Pak Basuki. Karena kalau tidak, warga Jakarta mungkin akan berpikir bahwa memang yang dibutuhkan Jakarta adalah sosok seperti Pak Basuki.

Lebih dari itu, sekarang sudah saatnya untuk memperbaiki polarisasi yang muncul akibat Pilkada. Para paslon sudah mencotohkan hal baik tersebut, tinggal sekarang barisan pendukung yang mengikuti. Semoga warga Jakarta bersatu kembali karena Jakarta rumah untuk semua.

 

Iklan

2 responses to “Gawat, Anies-Sandi Menang?

  1. Halo, Tito. Udah lama tidak berdiskusi bareng semenjak di ITB yah. Just want you to know that you do a great job on putting your emphasis tentang perspektif yang kamu punyai. However, I just want you to know that poin keagamaan akan lebih baik dilihat dari berbagai sudut pandang sehingga bisa melihat kondisinya secara lebih obyektif. Menurut saya, permasalahan keagamaan yang terjadi bukan hanya sebatas calon gubenur DKI 2017-2022. Mungkin itu pemicunya, yes. Tapi, Tito, I think the wound between the majority and minority runs deeper than only for election. And your poin doesn’t give any heal at all for both of the parties because lack of perspective in minority situation. Saya tidak bilang kalau kaum mayoritas tidak terluka. Once again we both hurt. But perhaps, your message will be much better if you write in more balance and neutral position bila memang tujuan tulisan ini adalah membantu rekonsiliasi antar pihak.

    Semoga karya tulisanmu lebih memberi dampak untuk Indonesia ke depannya ^^.

  2. halo yolanda, senang bisa berdiskusi lagi. pertama trimakasih atas apresiasinya. Yang kedua, benar, terjadi segregasi yang makin menjurang antara minoritas dan mayoritas (dalam hal ini lebih tepatnya, muslim radikal). Minoritas menjadi ketakutan, yang radikal mendapat angin. Benar. Tapi yang secara subyektif saya pahami sebagai bagian dari itu, mayoritas di Indonesia terdiri dari 3 muslim, muslim abangan (muslim yang biasanya direpresentasikan oleh partai nasionalis), muslim moderat progresif (dalam spektrum politik diwakili PKS dan PAN) dan muslim tradisional (dalam politik diwakili PPP dan PKB). Ini yang mayoritas, dan mayoritas ini sepenglihatan saya selalu memelihara kebhinnekaan dengan baik (tentu subyektif ya)

    Anyway, memang dari awal saya menulis dengan statement bahwa saya kontra kebijakan Pak Basuki dan memang yang saya arahkan dari tulisan ini tentang sebab musabab faktor non agamanya. Tapi benar, masukan yang bagus untuk saya. thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s