Kuasa dan Kompor

Waktu melihat ribut-ribut yang ada di jalanan Ibukota tadi malam, ditunjang berita-berita media massa yang bombastis dan silih komentar
di media sosial yang spektakuler, saya langsung teringat pada peristiwa
yang terjadi kira-kira 16 tahun yang lalu.

Pada tahun 2001 negara sedang sangat gonjang-ganjing. Saya tidak tahu
apakah anda-anda yang sebelas duabelas dengan saya umurnya – waktu itu
saya kelas 5 SD – sudah mengikuti pemberitaan ketika itu, namun yang
pasti situasinya terasa tegang. Presiden Gus Dur sedang digoyang dari
kursi Kepresidenannya oleh MPR yang direpresentasikan oleh Amien Rais,
dan Gus Dur melawan balik. Pertikaian ini diwarnai bumbu pedas manis
biar tambah hot, dipecatnya Jusuf Kalla (Golkar) dan Laksamana Sukardi
(waktu itu PDIP) dari kursi Menteri, pergantian Kapolri yang tidak
melibatkan DPR, kasus Buloggate dan Bruneigate yang fenomenal, sampai
dekrit Presiden membubarkan DPR (yang ternyata gagal).

Massa pro Gus Dur yang kebanyakan berasal dari Jawa Timur mengancam
akan menggeruduk Jakarta bila Gus Dur benar digulingkan. Sebagian massa
juga sudah memenuhi depan Istana Negara. Demonstrasi muncul di banyak
titik. Sementara poros tengah yang digawangi Amien Rais, yang saat 1999
mengangkat Gus Dur jadi Presiden, ironisnya sekarang justru sedang
menggalang kekuatan untuk mencongkelnya. Tegangnya situasi antara Gus
Dur dan Amien Rais, membuat basis massa mereka di akar rumput pun ikut
terlibat ketegangan. Massa arus bawah ormas N* (yang pernah diketuai
Gus Dur sebelum reformasi) dan M*h**m*diy*h (yang pernah diketuai Amien
Rais sebelum reformasi juga) saling perang dingin, bahkan mulai banyak
memercikkan friksi. Apalagi dua ormas ini memang sejak dulu sering
terlibat perselisihan dalam memandang konsep Islam. Lengkap. Politik
jadi kompor.

Saya yang waktu itu tinggal di kota kecil Pasuruan (yang justru jadi
titik panas massa pro Gus Dur) melihat dengan mata kepala sendiri
bagaiman gentingnya kondisi saat itu. Di beberapa titik ada spanduk
bertuliskan “GUS DUR JATUH PRESIDEN, JAWA TIMUR MERDEKA” (kurang ngeri
apa coba spanduknya). Di jalanan banyak barisan orang yang seperti siap
siaga memakai peci, namun bukan militer. Di masjid tempat saya shalat
Maghrib, ada seruan untuk ke Jakarta. Di kalangan masyarakat, muncul
desas desus adanya penyilangan rumah-rumah warga M*ham*ad*y*h dan
pengrusakan fasilitas-fasilitas aset M*ha*ma*iy*h.

Itu yang di Pasuruan, belum di kota-kota yang juga jadi basis massa
ormas N*.

Pada akhirnya kita semua tahu hasilnya, Gus Dur sukses turun dari kursi
Presiden, Jawa Timur tetap jadi Provinsi di Indonesia, dan kita saat
ini masih baik-baik saja.

Kalau kita refleksi ke banyak sejarah bangsa di belakang, kita dapat
menemukan banyak sekali konflik-konflik sosial maupun politik yang
tajam dan mencekam yang pernah terjadi sejak merdeka. Rakyat pernah
mendapat teror dari PKI, lalu kemudian PKI dibumihanguskan dan gantian
warga PKI diteror militer. Umat Islam yang mayoritas di Indonesia juga
pernah mengalami periode sulit di era 1970 -1990 saat Masyumi
dibubarkan, kemudian muncul pengawasan di seminar-seminar dan
pengajian, azas ideologi tunggal, pelarangan pemakaian jilbab di
sekolah, dan operasi Naga Hijau (pembantaian para Kyai). Hal ini
memudar saat Presiden Suharto balik arah meninggalkan militer dan
mendukung Islam dengan mensutradarai berdirinya ICMI. Rakyat etnis
Tionghoa pernah mengalami luka dalam saat penjarahan dan sentimen
negatif mengarah tajam ke mereka saat 1998. Rakyat pernah ribut karena
urusan Presiden (saat Gus Dur turun) dan saat Megawati – yang diterpa
isu gender oleh sebagian kalangan yang melarang wanita menjadi pemimpin
– mau naik dan mencalonkan diri lagi di 2004.

Beberapa bulan ini sebagian dari kita merasa tertekan dengan situasi
politik yang memanas yang dibumbui oleh kasus hukum dan kampanye agama.
Kalau dulu tanpa sosial media, sekarang sosial media jadi aktor utama
konflik dengan pers dan para buzzer sebagai kompor.

Rakyat Indonesia telah melewati berbagai macam konflik sosial dan
politik, dan sampai saat ini bangsa kita – tentu dengan pembelajaran
besar – masih baik-baik saja. Saya percaya apa yang dikatakan oleh
Jendral Gatot Nurmantyo, bahwa “Rakyat Indonesia adalah patriot”.
Karena rakyat Indonesia adalah patriot, negara ini tetap dan akan terus
baik-baik saja, walau diterpa isu apapun, termasuk saat ini.

Yang diperlukan saat ini adalah : menahan diri dan percaya. Menahan
diri baik yang euforia maupun bersedih. Percaya terhadap pemerintah,
termasuk lembaga peradilan walaupun dirasa tidak adil bagi sebagian
kalangan (sayapun merasa demikian saat vonis 2 tahun penjara Dahlan
Iskan dijatuhkan).

Di negara yang kita cintai ini, semua kalangan, baik dari ujung Barat
hingga Timur, baik mayoritas maupun minoritas, pernah merasakan
penderitaan dan terluka. Itulah karenanya kita disebut Satu Bangsa, bangsa
Indonesia.

Semoga negeri ini selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s